Kamis, 26 Februari 2015

REUNIFIKASI JERMAN BARAT—JERMAN TIMUR



REUNIFIKASI JERMAN BARAT—JERMAN TIMUR

Oleh:
1.      Desmond Alim Pratama          (140731600255)
2.      Nurjiati                                    (140731603962)
3.      Tyas Ambar Parisqi                 (140731601964)
Mahasiswa Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang

Abstrak: Pada akhir Perang Dunia Kedua, negara Jerman yang menerima kekalahan dalam perang, wilayahnya dibagi menjadi empat zona kependudukan oleh tentara sekutu. Kemudian dengan datangnya Perang Dingin, Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat menyatukan zona wilayah mereka ke dalam Republik Federal Jerman (Jerman Barat) dan Uni Soviet membentuk Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur). Dengan dibaginya Jerman, maka dibuatlah sebuah tembok pembatas di tengah kota Berlin yang disebut Tembok Berlin. Pada akhir perang dingin, Tembok Berlin dihancurkan dan Jerman bersatu kembali.
Kata Kunci: Perang Dingin, Jerman Barat, Jerman Timur, Tembok Berlin
Pendahuluan
Kekalahan Jerman dalam perang dunia kedua membuat wilayahnya terbagi-bagi. Dalam ketegangan antara dua negara adikuasa yaitu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, akhirnya Amerika Serikat bersama Inggris dan Perancis membentuk Republik Federal Jerman atau Jerman Barat. Uni Soviet juga tidak mau kalah dan akhirnya membentuk Republik Demokratik Jerman atau disebut juga Jerman Timur.
Hal ini semakin memanas dengan banyaknya penduduk Jerman Timur yang secara diam-diam pergi ke Jerman Barat. Untuk mencegah perpindahan penduduknya, pemerintah Jerman Timur dibantu oleh Uni Soviet membangun tembok berlin.
Pada akhir Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, rakyat Jerman Barat dan Jerman Timur menginginkan kembalinya persatuan Jerman. Banyak upaya yang dilakukan oleh pihak Jerman Barat dan Jerman Timur dalam memperjuangkan persatuan Jerman.
Hasil dan Pembahasan
Keadaan Jerman Barat—Jerman Timur
            Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, Jerman direbut dan diduduki oleh tentara sekutu. Akibat dari kekalahan tersebut, setiap kota yang ada di Jerman mengalami kehancuran baik dalam infrastruktur maupun yang lainnya. Saat diduduki tentara sekutu dibagi menjadi empat zona kependudukan. Bahkan ibukota lama Jerman, Berlin sebagai pusat kontrol dari tentara sekutu dibagi menjadi empat zona.
            “Dengan munculnya Perang Dingin (Cold War), Berlin pun terancam pecah karena terjadi friksi soal pembagian kewenangan  pengurusan wilayah antara Blok Barat dan Timur” (Susilo, 2009:109). Hal ini sama seperti yang digambarkan oleh Marvin Perry (2013:420) sebagai berikut:  Republik Federal Jerman, yang dibentuk dari tiga zona barat pendudukan, berhadapan dengan suatu Republik Demokratik Jerman yang didominasi Soviet di timur Pada 1945, dua Jerman baru yang dihukum telah muncul. Republik Federal Jerman, yang dibentuk dari tiga zona barat pendudukan, berhadapan dengan suatu Republik Demokratik Jerman yang didominasi Soviet di timur. Trauma nasional akan Jerman yang disekat mencapai puncak pada Agustus 1961, ketika pemerintahan Jerman Timur mendadak mendirikan sebuah tembok, yang memecah kota Berlin dan selama puluhan tahun menutup Jerman Timur dari Jerman Barat.
            Setelah berdirinya dua negara Jerman tersebut, Jerman Barat (Republik Federal Jerman) yang terdiri dari gabungan tiga zona di wilayah barat digunakan oleh front barat (Inggris, Perancis dan Amerika Serikat) untuk mendukung pertahanan Eropa Barat dari ancaman front timur (Uni Soviet) di benua Eropa.  Jerman Barat merupakan wilayah yang sangat penting bagi front barat seperti yang dijelaskan oleh Marvin Perry (2013: 421) sebagai berikut: Berdasarkan hal ini, Republik Federal Jerman (yang jauh lebih besar daripada rekan komunisnya di timur dan paling padat dari semua negeri Eropa Barat) mulai membangun identitas politiknya sendiri. Konrad Adenauer, kanselir dari 1949 hingga 1963, adalah pahlawan pendiri Republik Federal Jerman...dikenal sebagai anti-Nazi yang berani pada tahun-tahun Hitler berkuasa, dia mewakili tradisi demokratik-liberal pro-Barat Republik Weimar. Tujuannya sederhana: mengembalikan kehormatan kepada Jerman bekerjasama dengan Amerika Serikat dan negara-negara terkemuka Eropa. Sebagai seorang patriot, dia membangun kontinuitas secara berhati-hati dengan masa lampau Jerman, memikul tanggung jawab atas kejahatan rezim Nazi. Dengan adanya kesempatan, Jerman Barat memacu diri untuk membangun kembali ekonomi dan negeri mereka, dengan cepat menciptakan suatu benteng kekuatan ekonomi. Seluruh dunia mengagumi “keajaiban ekonomi” Jerman Barat. Kebijakan Adenauer melunasi utang dalam beberapa tahun; Jerman Barat mendapatkan kembali kedaulatannya. Pada 1955, Jerman Barat yang diremiliterisasi dengan hati-hati menjadi anggota NATO, dan pada 1957 negeri itu adalah anggota pendiri Komunitas  Ekonomi Eropa, dimana ia segera menjadi negara yang penting.
Sedangkan Jerman Timur (Republik Demokratik Jerman) menurut Marvin Perry (2013: 435-436) sebagai berikut: Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) mula-mula mengalami nasib yang sama seperti semua negeri satelit Soviet. Di bawah kepemimpinan para Komunis Jerman, yang menghabiskan tahun-tahun Nazi di Uni Soviet, industri dinasionalisasi, pertanian dikolektivikasi, dan rakyat diatur di bawah Komunisme (di sini disebut partai Kesatuan Sosialis). Tetapi protes-protes terhadap Stalinisme di sini tampak lebih awal dari pada tempat lain. Pada Juni 1953, para pekerja di Berlin melakukan suatu pemberontakan dan mendapat beberapa keringanan. Kemudian terjadi eksodus terus-menerus tenaga manusia yang ahli ke Jerman Barat, sebagian besar melalui Berlin Barat, lebih dari 3 juta orang lolos sebelum pemerintahan Jerman Timur membangun secara mendadak “Tembok Berlin” yang terkenal buruk dan juga membangun rintangan-rintangan yang mematikan di sepanjang seluruh perbatasan dengan Jerman Barat pada Agustus 1961,. Untuk sementara, semua kontak diantara kedua Jerman berhenti.
Hal ini serupa dengan pernyataan Wahjudi Djaja (2012: 210), yaitu: Dalam perjalanan pemerintahannya, Jerman barat mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat daripada Jerman Timur. Oleh sebab itu, banyak orang Jerman Timur yang memutuskan untuk hijrah ke Jerman barat. Namun karena saat itu terjadi Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet, Uni Soviet merasa tersinggung dengan adanya orang-orang pindah ke Jerman Barat. Oleh karena itu Uni Soviet menandai dan mendukung untuk membangun sebuah tembok yang berada di Kota Berlin yang menyebabkan terbelahnya kota itu. Selain itu di tembok ini, Uni Soviet juga menyiagakan tentaranya agar menembaki orang-orang yang masih berani untuk menyeberang. Kemudian tembok ini sangat dikenal orang sebagai simbol bagi Perang Dingin.
Richard Pipes (1981: 293) menjelaskan mengenai keadaan masyarakat Jerman Timur, sebagai berikut: “The popularity of the German Democratic Republic may be gauged by the fact that from the time of its establishment until 1961 (when the construction of the Berlin Wall put an end to the population movement) 2.7 million per sons, or an average of 700 a day, fled from east to west Germany”. Yang berarti: “Popularitas Republik Demokratik Jerman dapat diukur oleh fakta bahwa dari waktu berdirinya sampai 1961 ( saat pembangunan Tembok Berlin yang bermaksud untuk mengakhiri perpindahan penduduk ) 2,7 juta per anak , atau rata-rata 700 hari , melarikan diri dari timur ke Jerman Barat”.
Proses Reunifikasi Jerman Barat—Jerman Timur
Pada bulan Agustus 1989, pemerintahan reformis Hungaria melonggarkan peraturan ketat di perbatasannya dengan Austria, dan ribuan warga Jerman Timur bisa melarikan diri ke barat melalui Hongaria perpindahan warga Jerman Timur ke Jerman Barat terus berlanjut, antar lain lewat Polandia. Sementara itu, demonstrasi menentang rezim Jerman Timur berawal di tanah air sendiri, terutama demonstrasi di Lipzig. Pada peringatan hari ulang tahun ke-40 Jerman Timur, Gorbachev berkunjung ke sana tanggal 6—7  Oktober 1989. Dalam kunjungannya itu, ia memberikan dukungan kepada para pemimpin Jerman Timur untuk menerima perubahan. Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober terjadi perubahan kepemimpinan di jerman timur dengan mundurnya Erich Honecher, dan digantikan oleh Egon Krenz, yang kemudian diikuti oleh bubarnya kabinet pemerintahan. Kejadian itu memicu warga Jerman Timur pergi ke perbatasan, dan merusak tembok Berlin.
Pemilihan umum bebas pertama dan satu-satunya dalam sejarah jerman timur dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 1990. Kemudian pemerintahan yang terbentuk setelah pemilu itu, diberi mandat untuk berunding dengan Jerman Barat mengenai kesepakatan penggabungan kedua Negara tersebut. Tidak lama kemudian bubarnya kabinet Jerman Timur. Selang lima hari kemudian Tembok Berlin dan perbatasan lainnya dinyatakan terbuka. Sejak itu jutaan warga Jerman Timur mengunjungi Jerman Barat dengan leluasa. Meskipun  Tembok Berlin telah dinyatakan terbuka, namun proses reunifikasi kedua Jerman tersebut baru terjadi pada pertemuan Ottawa. Pertemuan itu diadakan tanggal 20 November 1989 di Ottawa. Pertemuan itu menggariskan formula “Dua Plus Empat” bagi proses unifikasi Jerman. Maksud Rumus “ dua plus Empat “ itu adalah konferensi itu di ikuti oleh dua negara Jerman, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur, di tambah empat Negara sekutu yang sebelumnya menguasai jerman, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, serta Perancis. Selanjutnya pada tanggal 14 Februari 1990 kanselir Helmut Kohl dan rekannya dari Jerman Timur Hans Modrow setuju untuk mempersiapkan penyatuan mata uang dan ekonomi kedua Negara.
            Kemudian pada tanggal 24 April 1990 Kohl dan de Maiziere menetapkan penyatuan ekonomi dan moneter Jerman, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan menetapkan Deutsche Mark sebagai mata uang  Jerman. Penyatuan Jerman tidak terbatas hanya pada persoalan ekonomi, namun menyangkut pula bidang militer. Semula Menlu Uni Soviet Edward Shevardnadze dalam pertemuan “ Dua plus Empat” pertama di Bonn mengajukan usulan agar jerman bersatu dalam lima tahun pertama tetap dalam pakta Warsawa atau netral, namun usul ini ditolak NATO.
Akhirnya Moskow menyetujui Jerman bersatu bergabung dalam NATO dengan tidak menganggap lagi pakta Warsawa sebagai musuh. Pada tanggal 13 Agustus 1990 parlemen Jerman sepakat menetapkan tanggal 23 Oktober 1990 sebagai hari penggabungan kembali kedua Jerman. Dalam sidang parlemen tersebut, 294 suara mendukung, 62 suara  melawan, serta 7 suara abstain. Reunifikasi Jerman akhirnya dilakukan lebih cepat dari rencana semula, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1990. Selanjutnya enam hari berikutnya tembok Berlin yang selama ini memisahkan kedua Negara tersebut segera dirobohkan.
Dampak di Bidang Politik
            Dengan bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat (Republik Federal Jerman) secara resmi pada tanggal 3 Oktober 1990 mengakibatkan hilangnya pengaruh Komunisme juga Uni Soviet di Jerman. November 1990, Jerman mengadakan pemilihan umum bebas pertama sejak 1932. Pemilihan Umum itu menghasilkan suara terbanyak untuk koalisi Helmut Kohl yang dahulunya adalah kanselir Jerman Barat (1982-1990). Ada kebutuhan unuk mencari tempat di tengah masyarakat Eropa, untuk memperbesar dan mewujudkan Jerman yang lebih kuat, tanpa sekali lagi memisahkan bagian yang ada (Imanuel Geiss, 1997: 105).
Dampak di Bidang Sosial
            Sebelum Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, banyak masyarakat dari Jerman Timur yang diam-diam mencoba untuk melarikan diri ke Jerman Barat, karena hancurnya perekonomian di Jerman Timur. Namun setelah bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur, masyarakat Jerman Timur dapat dengan mudah datang ke Jerman Barat tanpa harus sembunyi-sembunyi, begitu juga sebaliknya. Masyarakat Jerman dapat dengan mudah berinteraksi.
Dampak di Bidang Ekonomi
            Proses reunifikasi Jerman memakan banyak biaya, yaitu lebih dari 15 Triliun Euro. Hal ini diakibatkan dari lemahnya ekonomi Jerman Timur sebelum bersatu dengan Jerman Barat. Kebanyakan industri-industri yang ada di bekas wilayah Jerman Timur telah ditinggalkan, sehingga banyak menimbulkan pengangguran di beberapa daerah.




Daftar Rujukan
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.
Geiss, Imanuel. 1997. The Question of German Unification 1806-1996. London: Routledge
Perry, Marvin. 2013. Peradaban Barat: Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global. Terjemahan Saut Pasaribu. Bantul: Kreasi Wacana.
Pipes, Richard. 1981. Modern Europe. Georgetown: The Dorsey Press
Susilo Adi Taufik. 2009. Mengenal Benua Eropa. Jogjakarta: Garasi.

UNI SOVIET NEGARA ADIKUASA YANG SUDAH RUNTUH



                        UNI SOVIET NEGARA ADIKUASA YANG SUDAH RUNTUH
                                                                        Oleh :
               Bagus Amrulloh Eri Pradana                       (140731602432)
   Devi Intan Permatasari                               (140731600835)
   Yuni Susanti                                                (140731601514)
Mahasiswa Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang

ABSTRAK : Rusia merupakan negara yang menjadi pelopor terbentuknya negara Uni Soviet Uni Soviet dalam melaksanakan pemerintahannya menggunakan ideologi  komunisme.            Glasnot dan Perestoika merupakan penyebab runtuhnya Uni Soviet. Selain itu, penerapan            ekonomi yang awalnya diperkirakan akan memakmurkan rakyat Uni Soviet ternyata malah membuat penderitaan yang mendalam, seperti penerapan  yang dilakukan Stalin, Grigory Yalinsky dan juga Gorbachev. Akibat dari ekonomi yang semakin memburuk  dan tidak kuatnya negara melawan pemberontakan,akhirnya pada tanggal 25 Desember 1991, Uni Soviet secara resmi runtuh.
            Kata Kunci : Keruntuhan Uni Soviet, komunis, glasnost, peristoika, pakta Warsawa
Perubahan  merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat disingkirkan dari kehidupan manusia. Tanpa perubahan, manusia tidak akan bisa berkembang dan terlambat dalam penerapan teknologi dan informasi yang semakin hari semakin berkembang.
Begitu pula perubahan yang terjadi pada berbagai negara di dunia. Perubahan akan menjadi sebuah cahaya untuk negara yang ingin berkembang. Namun,  tidak sedikit dampak dari perubahan tersebut membuat keruntuhan, yaitu keruntuhan Uni Soviet menjadi beberapa negara bagian.
Hasil dan Pembahasan
Politik dan Pemerintahan Uni Soviet
            Uni Soviet merupakan negara adikuasa yang menjadi pusat dalam percaturan dunia selain Amerika Seikat. Uni Soviet yang mampu berjaya dengan peralatan teknologi dan militer yang serba canggih tersebut ternyata tidak mampu bertahan selama Amerika Serikat. Hingga pada akhirnya negeri yang awalnya dibangun oleh Lenin tersebut mengalami keruntuhan.
Uni Soviet berdiri pada tanggal 26 Desember 1922 melalui sebuah Revolusi yang mengubah kondisi Rusia secara keseluruhan. Revolusi ini menandai lahirnya ideologi baru yang diterapkan di pemerintahan sebagai reaksi atas berkembangnya paham liberalisme yang dianut oleh sebagian negara Eropa. Kelak negara ini akan menjadi negara besar dan mampu mengubah politik percaturan dunia (Henry Schmand.2005:547).
            Model pemerintahan Uni Soviet merupakan model pemerintahan yang menerapkan komunisme yang menitikberatkan pada semua alat-alat produksi dikuasai oleh negara sebagai lawan dari liberalisme dan corak pemerintahan yang begitu otoriter. Pengorganisasiran ideologi tersebut dikendalikan oleh partai yang dalam pemerintahan komunis terdapat satu partai (mono partai).
            Pada hal ini, kita bisa menyatakan bahwa Uni Soviet pada awalnya merupakan negara yang mempunyai sistem sebagai lawan dari liberalisme yang pada saat itu digadang-gadang akan membuat negara menjadi makmur dengan model yang begitu bebas. Ideologi komunisme merupakan lawan dari ideologi liberalisme yang juga diterapkan dalam negara.
Uni Soviet didirikan oleh Vladimir Ilyich Ulyanov atau yang lebih dikenal dengan nama Lenin, seorang tokoh penganut setia paham Marxisme. Lenin merupakan tokoh Bolshevik yang termahsyur berani melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Tsar II sebagai pemegang kekuasaan Uni Soviet dengan dukungan dari partai Bolshevik yang pada waktu itu sedang tumbuh secara pesat kekuataanya yang didukung oleh sebagian masyarakat Rusia (Henry Schmand.2005:540).
Lenin menghabiskan dua puluh tahun mempersiapkan rancangan bagi gerakan revolusionernya melalui partai Bolsheviks untuk mengendalikan negara, sebelum revolusi terjadi terdapat dua partai yang saling berebut kekuasaan yaitu Bolsheviks dan Mensheviks pimpinan L.Martov. Antara dua partai ini berbeda pandangan, Bolseviks ingin segera dilakukan revolusi dan melarang kerjasama dengan partai non-sosialis, sementara Mensheviks ingin agar pemerintahan demokratis dan kerjasama dalam partai lain untuk partisipasi dalam pemerintahan parlementer (Henry Schmand.2005:545).
            Lenin adalah seorang penganut Marxis yang mampu pertama kali menerapkan pelaksanaan ideologi tersebut pada pemerintahan, yaitu Rusia dan dikembangkan lebih jauh lagi melalui Uni Soviet setelah meleburkan beberapa negara dalam satu negara.
Marxisme adalah paham yang mengikuti pandangan Karl Marx sang pencetus Marxisme. Pandangan Marx ialah bahwa kapitalisme menindas proletar dan kaum miskin karena memanfaatkan mereka bekerja dengan upah minimum, sementara hasilnya dinikmati oleh kaum pemilik modal (capital). Penyebab dari itu adalah kepemilikan pribadi dan penguasaan kekayaan kaum pemodal serta tidak ada keadilan dan kesejahteraan proletar (Sulaiman Effendi.2014:195).
            Dalam melaksanakan pemerintahan Uni Soviet, Lenin menjalankan model pemerintahan yang disebut dengan diktator proletariat. Hal ini dilakukan demi menjaminya ideologi komunis dan kelak akan mencapat tingkat maksimal dengan keberhasilan masyarakat komunis Internasional melalui semboyan “kaum proletar sedunia,bersatulah”.
Diktator proletariat merupakan ideologi dengan menempatkan pemimpin negara yang berasal dari wakil kelas yang terbaik, mempunyai kesadaran penuh dan komunis loyal yang tercerahkan oleh pengalaman yang diperoleh dalam perjuangan revolusioner yang keras dan bila perlu kekerasan demi mewujudkan tujuan negara yang diprogram partai. Dalam hal ini partai komunis (Henry Schmand.2005;550)
Lenin meninggal pada tanggal 21 Januari 1924 akibat serangan jantung. Kepemimpinan Uni Soviet digantikan oleh kadernya yakni Leon Trotsky. Namun karena terdapat konflik dengan Joseph Stalin berkaitan dengan jabatan partai,Trotsky disingkirkan hingga Stalin menjadi penguasa Uni Soviet yang memerintah dengan tangan besi terkenal dengan kekejaman melebihi Lenin sehingga disebut “manusia baja” (Sulaiman Effendi.2014:161).
            Masa Stalin ini merupakan masa mulainya pembangunan secara aktif dengan berbagai kebijakan yang dibuat dengan tujuan menunjukkan kejayaan Uni Soviet. Stalin merupakan sahabat Lenin yang mempunyai pemahamaan yang sama terhadap teori Marxisme yang diterapkan dalam pemerintahan.
Jugapada masa Stalin ini totalitarianisme berkembang secara pesat dengan kekuasaan pemerintah yang kaku dan terpusat. Untuk melaksanakan kekuasaanya, Stalin memberlakukan dua sistem yang mengerikan kepada rakyat dengan dalih demi kondusifnya pembangunan yaitu Gulag dan Deportasi. Gulag merupakan sistem yang mengatur tahanan seseorang dengan berbagai faktor seperti kriminalitas dan faktor politik, sementara Deportasi berupa pencabutan kewarganegaraan dan pengusiran seseorang dari negara Uni Soviet karena faktor kriminal dan politik (Henry Schmand.2005:550).
Totalitarianisme merupakan upaya-upaya komunisme dengan teror dan indoktrinasi demi mengerahkan rakyat untuk tugas-tugas negara yang dibangu dengan sendi komunisme. Tugas mengatur rakyat akan lebih mudah jika warga negara bisa diminta menerima ideologi penguasa.Tidak sebagaimana diktator masa lalu yang berusaha melindungi status quo, totalitarianisme abad dua puluh berusaha menghancurkan institusi tradisional dan menggantikanya dengan masyarakat yang dipolakan pada cetak biru ideal tertentu (Henry Schmand.2005:560).
            Kebijakan represif Stalin tersebut sangat mengekang kebebasan yang ada pada rakyatnya, tetapi ternyata masih ada rakyat yang berani menyuarakan kritik terhadap kebijakan Stalin tersebut dengan resiko yang besar berupa gulag dan deportasi. Era ini merupakan penerapan Komunisme-Marxisme yang dilakukan secara kaku dan kejam.
            Dalam hal hubungan internasional, Stalin dengan ideologi komunisnya membentuk persekutuan negara-negara Soviet, kebanyakan berdasarkan “persatuan kebangsaan” atau sedapat mungkin mengandung prinsip etnis. Selama bertahun-tahun negara Uni Soviet ini diisolasi dari pergaulan internasional dalam perang dingin (Taufik Adi Susilo.2009:106).
            Selain itu, Uni Soviet juga aktif menyebarkan paham komunisme melalui aneksasi daerah tertentu ke dalam salah satu Uni Soviet  dan menjadikanya negara satelit sebagai sekutu melawan Amerika. Negara satelit tersebut kebanyakan berada di Eropa Timur seperti Polandia, Rumania, Bulgaria, Cekoslovakia, Moldova, Belarus, Estonia, Latvia, Ukraina, Georgia, Belarus dan Lithuania. Selain itu juga terdapat negara satelit Uni Soviet di kawasan Asia Tengah seperti Azerbaijan, Kazakhstan, Kirzigstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan (Taufik Adi Susilo.2009:103).
            Akibat dari perang dingin tersebut adalah persaingan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dalam beberapa hal seperti ekonomi, politik, spionase, teknologi, aliansi militer ruang angkasa dan sosial budaya demi membuktikan siapa yang lebih unggul dan menguasai dunia. Selain itu kedua negara ini aktif dalam memberikan perlindungan kepada negara lain yang dirasa mempunyai keinginan mewujudkan negara dengan basis komunis atau liberalis.
            Joseph Stalin meninggal pada tanggal 5 Maret 1953, pengganti Stalin ialah Nikita Khrushchev dengan kebijakan yang lebih longgar bila dibandingkan dengan Stalin. Nikita Khrushchev mengakui Stalin mengambil kebijakan yang kaku berakibat pada peperangan yang meluas seperti yang dialami pada negara-negara anggota Uni Soviet sepert Polandia pada tahun 1956 dan juga di Hongaria pada waktu yang sama akibat kritik akan kebijakan Stalin (Malvin Perry.2014:427).
            Nikita Khrushchev melakukan kebijakan diplomasi secara aktif ke berbagai negara dengan berbagai tujuan seperti politik dan ekonomi. Nikita Khrushchev melihat pentingnya diplomasi ini untuk mengurangi ketegangan dunia meskipun pada awalnya bermotif untuk kepentingan ideologi komunis. Pada masa Khruschev inilah terjadi beberapa sengketa dengan Amerika Seikat di berbagai wilayah dengan dalih membantu pihak yang seideologi dengan mereka.
Nikita Khruschev berusaha mengurangi peran tentara namun dia juga membuat langkah provokatif seperti mengancam akses ke Berlin Barat (Tembok Berlin), penempatan misil-misil di Kuba dengan persetujuan Fidel Castro (Insiden Teluk Babi), penguatan Pakta Warsawa yang mengalami krisis ekonomi dan yang menarik adalah pada tahun 1960 meskipun mempunyai kesamaan ideology dengan Cina ternyata Khruschev tidak ingin membantu pembangunan nuklir Cina dan berakibat pada retaknya hubungan Uni Soviet dengan Cina. Sepanjang tahun 1954-1956 inilah mulai banyak dilakukan perundingan bilateral sepeti dengan Austria, Jerman Barat, Jepang, India, Myanmar, Afghanistan dan termasuk Indonesia (Malvin Perry.2014:427).
            Pakta Warsawa adalah aliansi militer yang diprakarsai Uni Soviet dengan negara-negara Blok Timur pada tahun 1955 sebagai tandingan akan aliansi militer yang dibangun Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat dalam rangka membangun pertahanan antar negara demi membendung paham komunisme (Wahjudi Djaja.2012:212).
            Setelah Nikita Khruschvev mundur tahun 1964, pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Leonid Brezhnev yang sekaligus juga ketua Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet.
Leonid Brezhnev mempunyai model kepemimpinan tersendiri daam sejarah Soviet seperti membuka akses terhadap dunia luar seperti musik dan fashion barat, membuka kesempatan kepada orang yang memeluk agama, dan perdebatan publik mulai dibuka untuk masyarakat. Tetapi masih saja beberapa kebijakan pelonggaran tersebut belum dilaksanakan secara penuh seperti pada Andrei Almarik dan Aleksander Solzhenitsyn (sastrawan),serta Andrei Sakharov pembuat H-bom Soviet yang menjadi kekhawatiran Amerika Serikat masih dikenakan hukuman deportasi akibat menyuarakan kebebasan hak asasi manusia yang bertentangan dengan ideologi pemerintah (Wahyudi Djaja.2012:214).
Pengganti Brezhnev ialah mantan kepala KGB Yuri Andropov melalui kesepakatan di kalangan pejabat puncak partai. Faktor kesehatan yang memburuk membuat Yuri Andropov meninggal pada tahun 1984 dan digantikan Konstantin Cerenko. Konstantin Cerenko meninggal pada tahun 1985 karena faktor kesehatan dan digantikan oleh Mikhail Gorbachev (Marvin Perry.2014:436).
            Naiknya Mikhael Gorbhacev membuat perubahan dalam sejarah Uni Soviet berupa kebijakan yang bertentangan dengan ideologi Komunisme. Wujud perubahan tersebut adalah melalui kebijakan glasnost dan perestroika. Hal ini terlihat pada perundingan antara Gorbachev dengan presiden Amerika Serikat Ronald Reagen dan penggantinya, yaitu George Bush.
            Mikhail Gorbachev melakukan ini dilandasi dengan kondisi Uni Soviet yang mengalami keterpurukan, bila hal ini tidak segera diatasi maka Uni Soviet akan mengalami kesulitan yang amat parah. Bahkan sainganya, Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang berbeda berupa kondisi yang stabil tanpa kesulitan pemerintahan yang berarti. Oleh karena itu Gorbachev melakukan suatu terobosoan.
Perestroika merupakan restrukturiasi (penataaan kembali struktur) yang sudah rusak. Tujuanya ialah mengatasi kondisi stagnan untuk askelerasi (penyamaan) kemajuan sosial dan ekonomi. Juga perestroika merupakan pengembangan menyeluruh dari demokrasi yang diprakasai massa. Perestroika merupakan langkah pembaharuan untuk mempersatukan sosialisme dengan demokrasi melalui keterbukaan politik atau glasnost (Wahjudi Djaja.2012:217).
            Kebijakan ini membuat terjadinya beberapa kudeta dan secara berangsur-angsur menyebabkan Uni Soviet runtuh secara politik. Soviet runtuh secara politik dikarenakan kebrobokan politik yang hanya dikuasai satu partai yang berpotensi terjadinya korupsi secara besar-besaran, diperparah dengan sistem isolasi pada negara-negara anggota Uni Soviet dan penyebaran ideologi komunisnya. Ketika keterbukaan dimulai, media memberitakan kebrobokan tersebut dan menyebabkan masyarakat ingin perubahan pada sistem yang lebih baik serta para cendekiawan menyuarakan kritik terhadap jalanya pemerintahan yang sebelumnya mengkritik pemerintah adalah hal yang tabu.
Perkenomian Uni Soviet
Dalam bidang ekonomi, Stalin memerintahkan serangkaian Rencana Lima Tahun pada tahun 1928. Dorongan industrialisasi digembar-gemborkan sebagai suatu revolusi ekonomi dan sosial yang luas,  yang dilaksanakan oleh negara berdasarkan pada suatu rencana rasional. Penekanan terletak pada industri berat, pembangunan jalur-jalur kereta api, pembangkit tenaga listrik, pabrik baja, dan perangkat militer seperti tank dan pesawat tempur. Produksi barang-barang konsumsi dibatasi hingga pada batas minimal, dan semua perdagangan swasta skala kecil, yang dihidupkan dibawah NEP, berakhir dengan akibat-akibat yang membawa bencana bagi ekonomi Rusia. (Perry, 2014:307)
Dalam revolusi selanjutnya yang dilakukan oleh Stalin yaitu pertanian Soviet. Para petani dipaksa bergabung ke dalam ekonomi terencana melalui kolektivitas. Pertanian—petani, hewan piaran, dan lading mereka—harus tunduk pada kendali rasional yang sama dengan industry. Kolektivitas berarti penyatuan tanah pertanian, hewan piaran, dan peralatan demi produksi berskala  besar yang lebih efisien. Solusi Bolshevik untuk keterbelakangan pertanian Rusia sudah lama ialah bahwa petani harus menjadi seperti para pekerja. (Perry, 2014:308)
Namun, hal tersebut ditolak oleh para petani. Mereka merasa sudah sangat terikat dengan tanah yang memang merupakan bagian terpenting dari pertanian, mereka tidak mau bersikap seolah-olah mereka adalah pekerja, mereka ingin bekerja seperti majikan dari tanah pertanian miliknya. Namun, stalin menegaskan bahwa apabila hal ini tidak dilakukan maka kemakmuran yang selama ini diimpikan tidak akan pernah tercapai dan demi pencapaian tersebut tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah dari penguasa.
Menurut Perry (2014:308), para petani harus membayar dengan harga yang sangat tinggi. Stalin mendeklarasikan perang pada daerah pedalaman Rusia. Dia memerintahkan bahwa kulaks, para petani yang paling giat dan berada, “dihapuskan sebagai suatu kelas.” Banyak yang dibunuh seketika, dan jutaan digiring ke kamp-kampkerja paksa di utara yang jauh. Para tetangganya yang lebih miskin dan kurang efisien digirng ke lahan-lahan pertanian kolektif dengan todongan bayonet.
Para petani juga sering melakukan pembalasan, terkadang pembalasan yang dilakukan teratur tapi lebih sering melakukan pembalasan yang terkesan tidak teratur dan bahkan berantakan.  Walau dalam perang tersebut petani  kalah, tapi mereka tidak mau menyerahkan ternaknya. Salh satu cara yang dilakkukan oleh para petani adalah dengan membantai hewan peliharaannya lalu dimakan secara membabi buta tanpa memikirkan makanan untuk hari  selanjutnya. Akibatnya, selama berhari-hari mereka dilanda kelaparan dan  banyak yang mati secara mengenaskan. Rencana Lima Tahun yang direncanakan oleh Stalin kacau, mulai dari 1931 hingga 1933 jutaan orang mati kelaparan.
Penderitaan yang paling tragis terjadi di Ukraina, dimana kelaparan menewaskan kira-kira 7 juta orang, banyak diantaranya meninggal setelah mengalami perlakuan yang kejam dan penyiksaan yang sangat tidak berperikemanusiaan. Agar dapat membeli peralatan industri di luar negeri dan industrialisasi dapat mencapai target, Uni Soviet harus mengekspor makanan sebanyak mungkin dengan harga-harga yang teramat rendah karena Depresi Besar. Membiarkan para petani di lumbung makanan Ukraina tewas agar negeri itu dapat tumbuh kuat. Lagi pula  Stalin menikmati kesempatan untuk membinasakan rakyat Ukraina karena ketaksetiaan mereka selama perang saudara dan perlawanan mereka terhadap kolektivitas. (Perry, 2014:309)
Pada tahun 1938, pengadilan terakhir dan paling besar yang dipertontonkan mengajukan tuduhan  yang paling aneh dari semuanya: sabotase, spionase, dan usaha untuk memecah belah Uni Soviet dan membunuh semua  pemimpinnya (termasuk Lenin pada 1918). Teror menghantam pertama kali semua anggota partai, khususnya para Bolsheviks Tua yang bergabung sebelum revolusi. Ribuan teknisi, ilmuwan, manajer industry, sarjana dan seniman lenyap. Mereka ditembak atau dikirim ke kamp-kamp kerja paksa, dimana sebagian besar diantaranya binasa, tidak ada yang selamat. (Perry, 2014:312)
Stalin, yang sudah mengalami perlakuan dari para polisi tsaris dan berpartisasi di dalam penyembelihan besar-besaran  saat perang saudara, tidak merasa terganggu dengan pemborosan nyawa. Dia  percaya bahwa tanpa kepatuhan total rakyat Rusia, ekonomi Soviet tidak akan dimobilisasi secara efektif dan cepat dan bahwa teror diperlukan untuk memmaksakan kepatuhan. (Perry, 2014:312) 
Menurut Perry (2014:425) pemerintahan Stalin rusak akibat kekuasaan tak terbatas dan pujian berlebihan yang tak terkendali, pada tahun-tahun terakhirnya Stalin menunjukkan kekejaman yang tak kenal henti dan kecurigaan yang meninggi hingga kepuncak paronia. Ambisi Stalin yang sukar dikekang yaitu membangun kekuatan Soviet dimasa hidupnya, berapapun ongkos manusianya. Makin banyak Rencana Lima Tahun, maka teror semakin dibutuhkan. (Perry, 2014:425)
Sejak musim panas, pemerintah memperbolehkan sistem kepemilikan pribadi (sebelumnya hal ini dilarang) dan privatisasi. Dimulailah apa yang kemudian dikenal dengan “Ekonomi Pasar” di mana salah satu program yang cukup terkenal : “Program 500 Hari”, yang dikedepankan oleh Grigory Yavlinsky. Program ini adalah upaya menuju “Ekonomi Pasar” dalam waktu 500 hari (satu setengah tahun) dengan cara memindahkan perusahaan perdagangan dan industri (milik negara) kepada kepemilikan pribadi (swasta) yang diikuti dengan perubahan kebijakan keuangan, pengenalan harga bebas yang ditentukan oleh pasar. Langkah-langkah tersebut bukannya memperbaiki keadaan, tetapi justru menambah beban hidup dan kecemasan di masyarakat. (http://runtuhnya uni soviet.html)
Pada tahun 1985, Gorbachev yang merupakan pemimpin terakhir Uni Soviet, melakukan perbaikan ekonomi Uni Soviet, Gorbachev meminta tak kurang dari reorganisasi fundamental sistem Soviet, partai tetap bekerja tetapi lebih tanggap kepada rencana-rencana dan harapan-harapan warga negara Soviet. Bahkan melebihi para pendahulunya, dia menganjurkan “demokratisasi masyarakat”, dengan harapan untuk merangsang partisipasi warga negara biasa, khususnya ditempat kerja mereka dan di administrasi lokalnya. Dia menyerukan berbgai kandidat untuk pos-pos yang terpilih, suatu pengalaman baru bagi para pemberi suara Soviet. Untuk melonggarkan kekakuan administratif, dia juga memberikan kebebasan yang lebih besar kepada para usahawan lokal dibidang pertanian, industri, dan jasa konsumen, meminta agar persediaan dan permintaan dikoordinasikan, seperti dalam pasar bebas. (Perry, 2014:437)
Gorbachev mendorong kebijakan baru mengenai keterbukaan (glasnost) dalam menndiskusikan urusan-urusan publik. Membiarkan semua masalah masyarakat Soviet, yang hingga pada saat itu dirahasiakan, didiskusikan secara terbuka, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pengabaian legalitas, dan pencekikan kritik. Sewaktu kontak dengan dunia luar bertambah, cita-cita, kebudayaan, dan penghargaan Barat kepada hak-hak asasi manusia memasuki pikiran Soviet yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan-perubahan ekonomiyang berjangkauan luas dirancang untuk melonggarkan kekangan perencanaan pusat dan untuk mendorong ekonomipasar yang disertai dengan pembaruan politik. (Perry, 2014:437)
Perubahan-perubahan ekonomi yang berjangkauan luas dirancang untuk melonggarkan kekangan perencanaan pusat dan untuk mendorong ekonomi pasar yang disertai dengan pembaruan politik. Transformasi dan kelahiran kembali spiritual yang diharapkan Gorbachev tidak terjadi. Uni Soviet mengalami kemacetan pemerintahan yang efektif, keruntuhan ekonomi, korupsi, dan kejahatan yang berlingkar-lingkar.
Keruntuhan Uni Soviet
                        Gorbachev mendorong kebijakan baru mengenai keterbukaan (glasnost) dalam mendiskusikan urusan-urusan publik. Membiarkan semua masalah masyarakat Soviet dirahasiakan, di diskusi secara terbuka: korupsi, penyalanggunaan kekuasaan, pengabaian legalitas dan pencekikan kritik. Pada saat perang dingin berakhir Gorbachev berusaha meredakan ketegangan internasioanl. Gorbachev menarik tentara Soviet dari Afganistan pada akhir 1988, mengakui bahwa invasi 1979 adalah suatu kekeliruan. Ia membebaskan Eropa Timur dari dominasi Soviet, mengizinkan pembubaran Pakta Warsawa, aliansi militer Soviet di wilayah itu, dan memberikan persetujuan kepada penyatuan kembali Jerman. Dia meninggalkan klaim Leninis atas superioritas komunisme Soviet, menghentikan dukungan rezim-rezim Marxis di Dunia Ketiga.(perry, marvin. 2013: 438).
Pada tahun 1990, Gorbachev mengakui negerinya. Akan tetapi, pemerintahan di negerinya mengalami kemerosotan hingga menimbulkan perdebatan antara kedua belah pihak. Dalam perdebatan antara Moscow dan leningrad dengan Boris Yeltsin, untuk memulihkan perdebatan yang menimbulkan perlawanan akhirnya mengandalkan tentara dan pasukan keamanan . Pada agustus 1991, Gorbachev dipenjara,dipecat sebagai presiden Uni Soviet dan ia bersiap membentuk pemerintahan yang kediktatoran komunis baru. Dengan adanya keruntuhan partai komunis, maka pada akhir bulan Desember Gorbachev berakhir menjadi pemimpin Uni Soviet. (perry, marvin. 2013: 441-442).
Pada akhirnya, pemerintahan berhaluan komunis di Bulgaria, Cekoslowakia, Hongaria, Jerman Timur, Polandia, dan Rumania yang berkuasa sejak akhir Perang Patriotik Raya runtuh. Pada tanggal 7 Februari1990, Komite Pusat Partai Komunis setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaannya. Republik-republik anggota Uni Soviet mulai menegaskan kedaulatan nasional mereka terhadap Moskwa dan mulai melancarkan "perang undang-undang" dengan pemerintah pusat. (Wikipedia, 2013)
Dalam hal ini, pemerintahan republik-republik anggota Uni Soviet, terutama Trio Baltik, yaitu Estonia, Lituania, dan Latvia, membatalkan semua undang-undang federal jika undang-undang itu bertentangan dengan undang-undang setempat, menegaskan kendali mereka terhadap perekonomian setempat, dan menolak membayar pajak kepada pemerintah pusat di Moskwa. (Wikipedia, 2013)
 Negara-negara satelit di Eropa Timur seperti Polandia, Cekoslovasia, Rumania, dan Bulgaria melepaskan diri dari pengawasan Uni Soviet. (Susilo,2009:102). Pada abad ke-19 negara Azerbaijan, Armenia, Polandia, Lithuania, Latvia, Estonia, Finlandia, Georgia dan kekaisaran Persia diambil oleh tsar dan negara tersebut menjadi negara merdeka sedangkan di Armenia, Georgia, Azerbaijan dan daerah-daerah di Asia kaum komunis menang dengan bantuan militer Bolshevik. Polandia dibagi antara Rusia, dan Austria-Hungaria (Habsburg). (Susilo, 2009:107).
Secara resmi, pada tanggal  25 Desember 1991, Uni Soviet resmi runtuh dan menyisakan kepingan-kepingan negara-negara bagian kecil Uni  Soviet, setelah presiden Mikhail Gorbachev mengundurkan diri menjadi presiden Uni Soviet. (http://runtuhnya uni soviet.html)
Daftar Rujukan
Perry,Malvin. 2013. Peradabat Barat dari Revolusi Perancis Hingga Zaman Global. Kreasi             Wacana:Bantul
Effendi,Sulaiman. 2014. Tokoh-tokoh Dunia Yang Mempengaruhi Bung Karno.       Palapa:Yogyakarta
Susilo Adi Taufik. 2009. Mengenal Benua Eropa. Garasi:Yogyakarta
Djaja,Wahyudi. 2010. Sejarah Eropa Dari Eropa kuno Hingga Eropa Modern.        Ombak:Yogyakarta
Schmand,Henry. 2005. Filsafat Politik Dari Yunani Kuno Sampai Zaman Modern. Pusataka             Pelajar:Yogyakarta.
Wahyu. 2013. Runtuhnya Uni  Soviet. (Online),         (http://ibnunasrul.blogspot.com/2013/02/runtuhnya-uni-soviet_18.html), diakses 26    Februari 2015
Allen, Hendry, dkk. 2013. Sejarah Uni Soviet (1982-1991). (Online),          (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah Uni Soviet %281982%E2%80%931991%29),      diakses 26 Februari 2015