REUNIFIKASI JERMAN BARAT—JERMAN
TIMUR
Oleh:
1.
Desmond
Alim Pratama (140731600255)
2.
Nurjiati (140731603962)
3.
Tyas
Ambar Parisqi (140731601964)
Mahasiswa
Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas
Negeri Malang
Abstrak:
Pada akhir Perang Dunia Kedua, negara Jerman yang menerima kekalahan dalam
perang, wilayahnya dibagi menjadi empat zona kependudukan oleh tentara sekutu. Kemudian
dengan datangnya Perang Dingin, Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat
menyatukan zona wilayah mereka ke dalam Republik Federal Jerman (Jerman Barat)
dan Uni Soviet membentuk Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur). Dengan
dibaginya Jerman, maka dibuatlah sebuah tembok pembatas di tengah kota Berlin
yang disebut Tembok Berlin. Pada akhir perang dingin, Tembok Berlin dihancurkan
dan Jerman bersatu kembali.
Kata Kunci: Perang
Dingin, Jerman Barat, Jerman Timur, Tembok Berlin
Pendahuluan
Kekalahan Jerman dalam
perang dunia kedua membuat wilayahnya terbagi-bagi. Dalam ketegangan antara dua
negara adikuasa yaitu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, akhirnya Amerika Serikat
bersama Inggris dan Perancis membentuk Republik Federal Jerman atau Jerman
Barat. Uni Soviet juga tidak mau kalah dan akhirnya membentuk Republik
Demokratik Jerman atau disebut juga Jerman Timur.
Hal ini semakin memanas
dengan banyaknya penduduk Jerman Timur yang secara diam-diam pergi ke Jerman
Barat. Untuk mencegah perpindahan penduduknya, pemerintah Jerman Timur dibantu
oleh Uni Soviet membangun tembok berlin.
Pada akhir Perang
Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, rakyat Jerman Barat dan Jerman
Timur menginginkan kembalinya persatuan Jerman. Banyak upaya yang dilakukan
oleh pihak Jerman Barat dan Jerman Timur dalam memperjuangkan persatuan Jerman.
Hasil dan Pembahasan
Keadaan
Jerman Barat—Jerman Timur
Setelah
berakhirnya Perang Dunia Kedua, Jerman direbut dan diduduki oleh tentara
sekutu. Akibat dari kekalahan tersebut, setiap kota yang ada di Jerman
mengalami kehancuran baik dalam infrastruktur maupun yang lainnya. Saat
diduduki tentara sekutu dibagi menjadi empat zona kependudukan. Bahkan ibukota
lama Jerman, Berlin sebagai pusat kontrol dari tentara sekutu dibagi menjadi
empat zona.
“Dengan munculnya Perang Dingin
(Cold War), Berlin pun terancam pecah karena terjadi friksi soal pembagian
kewenangan pengurusan wilayah antara
Blok Barat dan Timur” (Susilo, 2009:109). Hal ini sama seperti yang digambarkan
oleh Marvin Perry (2013:420) sebagai berikut:
Republik Federal Jerman, yang dibentuk dari tiga zona barat pendudukan,
berhadapan dengan suatu Republik Demokratik Jerman yang didominasi Soviet di
timur Pada 1945, dua Jerman baru yang dihukum telah muncul. Republik Federal
Jerman, yang dibentuk dari tiga zona barat pendudukan, berhadapan dengan suatu
Republik Demokratik Jerman yang didominasi Soviet di timur. Trauma nasional
akan Jerman yang disekat mencapai puncak pada Agustus 1961, ketika pemerintahan
Jerman Timur mendadak mendirikan sebuah tembok, yang memecah kota Berlin dan
selama puluhan tahun menutup Jerman Timur dari Jerman Barat.
Setelah berdirinya dua negara Jerman
tersebut, Jerman Barat (Republik Federal Jerman) yang terdiri dari gabungan
tiga zona di wilayah barat digunakan oleh front barat (Inggris, Perancis dan
Amerika Serikat) untuk mendukung pertahanan Eropa Barat dari ancaman front
timur (Uni Soviet) di benua Eropa.
Jerman Barat merupakan wilayah yang sangat penting bagi front barat
seperti yang dijelaskan oleh Marvin Perry (2013: 421) sebagai berikut:
Berdasarkan hal ini, Republik Federal Jerman (yang jauh lebih besar daripada
rekan komunisnya di timur dan paling padat dari semua negeri Eropa Barat) mulai
membangun identitas politiknya sendiri. Konrad Adenauer, kanselir dari 1949
hingga 1963, adalah pahlawan pendiri Republik Federal Jerman...dikenal sebagai
anti-Nazi yang berani pada tahun-tahun Hitler berkuasa, dia mewakili tradisi
demokratik-liberal pro-Barat Republik Weimar. Tujuannya sederhana:
mengembalikan kehormatan kepada Jerman bekerjasama dengan Amerika Serikat dan
negara-negara terkemuka Eropa. Sebagai seorang patriot, dia membangun
kontinuitas secara berhati-hati dengan masa lampau Jerman, memikul tanggung
jawab atas kejahatan rezim Nazi. Dengan adanya kesempatan, Jerman Barat memacu
diri untuk membangun kembali ekonomi dan negeri mereka, dengan cepat
menciptakan suatu benteng kekuatan ekonomi. Seluruh dunia mengagumi “keajaiban
ekonomi” Jerman Barat. Kebijakan Adenauer melunasi utang dalam beberapa tahun;
Jerman Barat mendapatkan kembali kedaulatannya. Pada 1955, Jerman Barat yang
diremiliterisasi dengan hati-hati menjadi anggota NATO, dan pada 1957 negeri
itu adalah anggota pendiri Komunitas
Ekonomi Eropa, dimana ia segera menjadi negara yang penting.
Sedangkan
Jerman Timur (Republik Demokratik Jerman) menurut Marvin Perry (2013: 435-436)
sebagai berikut: Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) mula-mula mengalami
nasib yang sama seperti semua negeri satelit Soviet. Di bawah kepemimpinan para
Komunis Jerman, yang menghabiskan tahun-tahun Nazi di Uni Soviet, industri
dinasionalisasi, pertanian dikolektivikasi, dan rakyat diatur di bawah
Komunisme (di sini disebut partai Kesatuan Sosialis). Tetapi protes-protes
terhadap Stalinisme di sini tampak lebih awal dari pada tempat lain. Pada Juni
1953, para pekerja di Berlin melakukan suatu pemberontakan dan mendapat
beberapa keringanan. Kemudian terjadi eksodus terus-menerus tenaga manusia yang
ahli ke Jerman Barat, sebagian besar melalui Berlin Barat, lebih dari 3 juta
orang lolos sebelum pemerintahan Jerman Timur membangun secara mendadak “Tembok
Berlin” yang terkenal buruk dan juga membangun rintangan-rintangan yang
mematikan di sepanjang seluruh perbatasan dengan Jerman Barat pada Agustus
1961,. Untuk sementara, semua kontak diantara kedua Jerman berhenti.
Hal
ini serupa dengan pernyataan Wahjudi Djaja (2012: 210), yaitu: Dalam perjalanan
pemerintahannya, Jerman barat mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat
daripada Jerman Timur. Oleh sebab itu, banyak orang Jerman Timur yang
memutuskan untuk hijrah ke Jerman barat. Namun karena saat itu terjadi Perang
Dingin antara Amerika dan Uni Soviet, Uni Soviet merasa tersinggung dengan
adanya orang-orang pindah ke Jerman Barat. Oleh karena itu Uni Soviet menandai
dan mendukung untuk membangun sebuah tembok yang berada di Kota Berlin yang
menyebabkan terbelahnya kota itu. Selain itu di tembok ini, Uni Soviet juga menyiagakan
tentaranya agar menembaki orang-orang yang masih berani untuk menyeberang.
Kemudian tembok ini sangat dikenal orang sebagai simbol bagi Perang Dingin.
Richard Pipes (1981:
293) menjelaskan mengenai keadaan masyarakat Jerman Timur, sebagai berikut: “The
popularity of the German Democratic Republic may be gauged by the fact that
from the time of its establishment until 1961 (when the construction of the
Berlin Wall put an end to the population movement) 2.7 million per sons, or an
average of 700 a day, fled from east to west Germany”. Yang berarti: “Popularitas Republik Demokratik
Jerman dapat diukur oleh fakta bahwa dari waktu berdirinya sampai 1961 ( saat
pembangunan Tembok Berlin yang bermaksud untuk mengakhiri perpindahan penduduk
) 2,7 juta per anak , atau rata-rata 700 hari , melarikan diri dari timur ke
Jerman Barat”.
Proses Reunifikasi Jerman
Barat—Jerman Timur
Pada bulan Agustus 1989, pemerintahan reformis Hungaria melonggarkan
peraturan ketat di perbatasannya dengan Austria, dan ribuan warga Jerman Timur bisa melarikan
diri ke barat melalui Hongaria perpindahan warga Jerman Timur ke Jerman Barat
terus berlanjut, antar lain lewat Polandia. Sementara itu, demonstrasi
menentang rezim Jerman Timur berawal di tanah air sendiri, terutama demonstrasi
di Lipzig. Pada peringatan hari ulang tahun ke-40 Jerman Timur, Gorbachev
berkunjung ke sana tanggal 6—7 Oktober
1989. Dalam kunjungannya itu, ia memberikan dukungan kepada para pemimpin
Jerman Timur untuk menerima perubahan. Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober
terjadi perubahan kepemimpinan di jerman timur dengan mundurnya Erich Honecher,
dan digantikan oleh Egon Krenz, yang kemudian diikuti oleh bubarnya kabinet
pemerintahan. Kejadian itu memicu warga Jerman Timur pergi ke perbatasan, dan
merusak tembok Berlin.
Pemilihan umum bebas pertama dan satu-satunya dalam sejarah
jerman timur dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 1990. Kemudian pemerintahan
yang terbentuk setelah pemilu itu, diberi mandat untuk berunding dengan Jerman
Barat mengenai kesepakatan penggabungan kedua Negara tersebut. Tidak lama
kemudian bubarnya kabinet Jerman Timur. Selang lima hari kemudian Tembok Berlin
dan perbatasan lainnya dinyatakan terbuka. Sejak itu jutaan warga Jerman Timur
mengunjungi Jerman Barat dengan leluasa. Meskipun Tembok Berlin telah dinyatakan terbuka, namun
proses reunifikasi kedua Jerman tersebut baru terjadi pada pertemuan Ottawa.
Pertemuan itu diadakan tanggal 20 November 1989 di Ottawa. Pertemuan itu menggariskan
formula “Dua Plus Empat” bagi proses unifikasi Jerman. Maksud Rumus “ dua plus
Empat “ itu adalah konferensi itu di ikuti oleh dua negara Jerman, yaitu Jerman
Barat dan Jerman Timur, di tambah empat Negara sekutu yang sebelumnya menguasai
jerman, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, serta Perancis. Selanjutnya
pada tanggal 14 Februari 1990 kanselir Helmut Kohl dan rekannya dari Jerman Timur
Hans Modrow setuju untuk mempersiapkan penyatuan mata uang dan ekonomi kedua
Negara.
Kemudian pada tanggal 24 April 1990
Kohl dan de Maiziere menetapkan penyatuan ekonomi dan moneter Jerman, yang
selanjutnya ditindaklanjuti dengan menetapkan Deutsche Mark sebagai mata
uang Jerman. Penyatuan Jerman tidak terbatas
hanya pada persoalan ekonomi, namun menyangkut pula bidang militer. Semula
Menlu Uni Soviet Edward Shevardnadze dalam pertemuan “ Dua plus Empat” pertama
di Bonn mengajukan usulan agar jerman bersatu dalam lima tahun pertama tetap
dalam pakta Warsawa atau netral, namun usul ini ditolak NATO.
Akhirnya Moskow menyetujui Jerman bersatu bergabung dalam
NATO dengan tidak menganggap lagi pakta Warsawa sebagai musuh. Pada tanggal 13
Agustus 1990 parlemen Jerman sepakat menetapkan tanggal 23 Oktober 1990 sebagai
hari penggabungan kembali kedua Jerman. Dalam sidang parlemen tersebut, 294
suara mendukung, 62 suara melawan, serta
7 suara abstain. Reunifikasi Jerman akhirnya dilakukan lebih cepat dari rencana
semula, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1990. Selanjutnya enam hari berikutnya
tembok Berlin yang selama ini memisahkan kedua Negara tersebut segera
dirobohkan.
Dampak
di Bidang Politik
Dengan bersatunya Jerman Timur dan
Jerman Barat (Republik Federal Jerman) secara resmi pada tanggal 3 Oktober 1990
mengakibatkan hilangnya pengaruh Komunisme juga Uni Soviet di Jerman. November
1990, Jerman mengadakan pemilihan umum bebas pertama sejak 1932. Pemilihan Umum
itu menghasilkan suara terbanyak untuk koalisi Helmut Kohl yang dahulunya
adalah kanselir Jerman Barat (1982-1990). Ada kebutuhan unuk mencari tempat di
tengah masyarakat Eropa, untuk memperbesar dan mewujudkan Jerman yang lebih
kuat, tanpa sekali lagi memisahkan bagian yang ada (Imanuel Geiss, 1997: 105).
Dampak di Bidang Sosial
Sebelum Jerman Barat dan Jerman
Timur bersatu, banyak masyarakat dari Jerman Timur yang diam-diam mencoba untuk
melarikan diri ke Jerman Barat, karena hancurnya perekonomian di Jerman Timur.
Namun setelah bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur, masyarakat Jerman Timur
dapat dengan mudah datang ke Jerman Barat tanpa harus sembunyi-sembunyi, begitu
juga sebaliknya. Masyarakat Jerman dapat dengan mudah berinteraksi.
Dampak di Bidang Ekonomi
Proses
reunifikasi Jerman memakan banyak biaya, yaitu lebih dari 15 Triliun Euro. Hal
ini diakibatkan dari lemahnya ekonomi Jerman Timur sebelum bersatu dengan
Jerman Barat. Kebanyakan industri-industri yang ada di bekas wilayah Jerman
Timur telah ditinggalkan, sehingga banyak menimbulkan pengangguran di beberapa
daerah.
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.
Geiss, Imanuel. 1997. The Question of German Unification 1806-1996. London: Routledge
Perry, Marvin. 2013. Peradaban Barat: Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global.
Terjemahan Saut Pasaribu. Bantul: Kreasi Wacana.
Pipes, Richard. 1981. Modern Europe. Georgetown: The Dorsey Press
Susilo Adi Taufik. 2009. Mengenal Benua Eropa. Jogjakarta:
Garasi.