KONFLIK DAN PERMASALAHAN ETNIS KONTEMPORER DI
YUGOSLAVIA
M Dian
Mutahar 140731603572
Muhammad
Hasmal M 140731600175
Raisa
Rahmawati 140731600695
Abstrak : Konflik etnis di Yugoslavia
pada tahun 1990an sampai 2001 disebabkan tingginya prasangka etnis ditambah runtuhnya
komunisme, vaccum of power setelah kematian Josep Broz Tito, dan
semangat nasionalisme etnis disetiap bangsa yang ada didalam wilayah
Yugoslavia. Konflik Yugoslavia yang terkenal adalah konflik Bosnia. Konflik ini
menewaskan korban dalam jumlah besar. Dampak konflik ini adalah banyaknya
korban jiwa, krisis ekonomi, dan disintegrasi Yugoslavia.
Kata Kunci : Konflik, Etnis, Kontemporer,
Yugoslavia.
Akar konflik etnis yang berkepanjangan di
Yugoslavia telah muncul pada tahun 1918 saat bubarnya kerajaan Austria-Hongaria
dan bersatunya Serbia, Kroasia, dan Slovenia, akan tetapi Kroasia ingin negara
berbentuk federasi sedangkan Serbia menginginkan sebuah negara kesatuan
(Wikipedia, 2013). Hal ini menimbulkan sebuah konflik yang nantinya meluas
menjadi konflik antar etnis yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Selain
itu juga memunculkan negara-negara baru merdeka seperti Kroasia.
PEMBAHASAN
Awal
Perpecahan Negara Yugoslavia
Perpecahan
(atau lebih tepat dipecahkan) kembali terjadi pada tanggal 17 April 1941
(Perang Dunia II) tentara pemberontak Yugoslavia menyerah dan berhasil
ditaklukan oleh tentara NAZI Jerman. Hitler membagi Yugoslavia kepada sekutu
porosnya yaitu Italia, Hongaria, Bulgaria dan penguasa boneka setempat.
Yugoslavia saat itu terdiri dari Serbia (dibawah pemerintahan Jerman),
Makedonia (diduduki Bulgaria), Montenegro (diduduki Italia), Negara Kroasia
Merdeka, Slovenia (diduduki Jerman, Italia, dan Hongaria), Baranja (diduduki
Hongaria), Dalmatia (diduduki Italia), dan Kosovo (diduduki Italia dan Albania)
(Oktorino, 2014:5—7).
Berakhirnya
Perang Dunia II memunculkan negara federal sosialis di bawah kepemimpinan Tito,
setelah prestasinya dalam perang dunia kedua dia berhasil membubarkan monarki
dan mengangkat dirinya sebagai diktator Yugoslavia. Dia menindas sentimen
kesukuan dan keagamaan yang sifatnya memecah belah, dia memerintah dan
mempersatukan negerinya dengan tangan besi (Oktorino, 2014:27). Pada masa
kepemimpinannya inilah Yugoslavia bisa dikatakan berada pada masa puncaknya.
Pada tanggal
4 Mei 1980 Tito Sang diktator meninggal sebagaimana yang dituliskan Meier
(2005:1) dalam bukunya“On 4 May 1980, Josip Broz Tito, President of the
Socialist Federated Republic of Yugoslavia, died”. Kematian Tito membawa
banyak dampak bagi Yugoslavia diantaranya
vacum of power
(Kekosongan kekuasaan), hal ini membuktikan bahwa stabilitas negara
tergantung kepada sosok kharismatik dari seorang Tito sehingga setelah
kematiannya, konflik etnis yang telah berhasil ditekan selama pemerintahannya
kembali bergolak di Yugoslavia (Haryono, 2007:2). Konflik etnis itu menimbulkan banyak korban
dan kerugian-kerugian baik materiil maupun psikologis.
Pada
dasarnya akar konflik berkepanjangan di daerah Yugoslavia menurut Wardhani
(2011:222) disebabkan tingginya prasangka etnis, sebagai contoh konflik Bosnia
disebabkan oleh keberhasilan Slobodan Milosevic memancing prasangka negatif
antara kaum Bosnia dengan Kroasia dan memobilisasi tentara yang menghasilkan
pembasmian etnis yang tujuan akhirnya adalah menciptakan Serbia Raya.
Tingginya
prasangka etnis ditambah runtuhnya komunisme, vaccum of power, semangat
nasionalisme disetiap bangsa yang ada didalam wilayah Yugoslavia dan
kepentingan asing menjadi latar belakang yang sempurna bagi tragedi kemanusiaan
berupa berbagai konflik etnis dikawasan ini.
Munculnya
Akar Konflik Etnis Yugoslavia
Awal mula
konflik etnis berkepanjangan yang terjadi di Yugoslavia dimulai pada tahun 1918
ketika bubarnya kerajaan Austria-Hongaria dan bersatunya kerajaan dari Serbia,
Kroasia, dan Slovenia setelah Perang Dunia I. Pada tahun 1929 kerajaan dari
Serbia, Kroasia, dan Slovenia tersebut berubah nama menjadi Yugoslavia.
Yugoslavia sendiri memiliki arti, yaitu ‘orang-orang Slavia Selatan. Yugoslavia
menjadi sebuah negara kerajaan yang dipimpin oleh Raja Alexander I (Susilo,
2009:110). Setelah kerajaan-kerajaan tersebut bergabung dan membentuk negara
kerajaan Yugoslavia, nama Yugoslavia semakin memiliki eksistensi di dunia
Internasional.
Namun,
setelah bergabungnya Serbia, Kroasia, dan Slovenia bersatu timbul permasalahan
yang dimulai dengan Serbia yang menginginkan sebuah negara kesatuan, sedangkan
Kroasia yang menginginkan negara yang berbentuk federasi. Pada tahun 1928,
Kroasia mencoba melepaskan diri dari Yugoslavia setelah seorang anggota
parlemen dari Kroasia dibunuh. Raja Alexander, sejak tahun 1921, bereaksi keras
dengan membubarkan parlemen dan mencanangkan diktatorialisme (Wikipedia, 2015).
Perbedaan keinginan dari dalam negara itu, memicu akar konflik dan perepecahan
yang nantinya menimbulkan konflik yang berlatarbelakang etnis.
Konflik
etnis yang terjadi di Yugoslavia merupakan konflik dan kekerasan yang terjadi
selama 1990-2001, namun bibit konflik etnis ini sudah muncul pada Perang Dunia
I tahun 1918. Konflik etnis ini melibatkan warga Yugoslavia yang kebanyakan
antara bangsa Serbia melawan Kroasia, Bosnia dan Albania. Sering disebut perang
paling mematikan di Eropa setelah terjadinya Perang Dunia. Perang ini dicirikan
sebagai kejahatan perang dan pembersihan etnis secara besar-besaran. Perang
pertama setelah terjadinya Perang Dunia II yang dianggap sebagai genosida dan
banyak tokoh kunci perang ini yang dituduh melakukan kejahatan perang
(Wikipedia, 2013). Hal ini karena terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap
etnis lain oleh Serbia.
Yugoslavia
merupakan salah satu negara komunis yang makmur pada masanya. Ketenaran
Yugoslavia memuncak ketika Yugoslavia dipimpin Josip Broz Tito yang berkuasa
selama 40 tahun. Namun, tahun 1990-an
adalah era yang paling pahit bagi Yugoslavia, dimana pada era itu terjadi
pertarungan berdarah dan berbau agama serta etnis yang mengorbankan banyak
nyawa manusia. Hal ini diakibatkan tidak adanya tokoh kharismatik seperti Tito
yang mampu memimpin Yugoslavia. Pada akhirnya Kroasia, Slovenia, Herzegovina
dan Makedonia memisahkan diri. Yang tersisa sebagai negara Yugoslavia hanya
Montenegro dan Serbia (Susilo, 2009:111). Pemisahan itu mengakibatkan
Yugoslavia hanya tinggal tersisa wilayah Serbia dan Montenegro saja. Dua
kawasan itu masih bersatu sejak 2003 hingga 2006 dan pusatnya ada di Beograd.
Urusan pertahanan, kebijakan luar negeri, hubungan ekonomi internasional, dan
hak asasi manusia (HAM) ditangani bersama, sedangkan urusan sehari-hari
ditangani secara terpisah (Susilo, 2009:111). Hal ini layaknya negara-negara
federasi yang memiliki kewenangan mengurusi negara bagiannya sendiri dalam
bidang-bidang tertentu.
Terbentuknya
negara Yugoslavia pada awalnya lebih disebabkan oleh banyaknya persoalan yang
tidak bisa diselesaikan. Misalnya, masalah multinasional, struktural dan upaya
demokratisasi Kerajaan Serbia-Kroasia. Untuk mengatasi itu, Raja Alexander
menyetujui terbentuknya negara Yugoslavia tersebut (Susilo, 2009:111). Hal ini
dimaksudkan untuk meredam persoalan-persoalan yang terjadi.
Pembagian
entitas politik Bosnia-Herzegovina terpecah-belah pada 1991 setelah runtuhnya
rezim-rezim komunis di Eropa Timur. Mengikuti contoh Kroasia dan Slovenia yang
telah merdeka sebelumnya, pada Maret 1992 Bosnia-Herzegovina menyatakan
kemerdekaannya melalui referendum yang diikuti oleh masyarakat muslim dan
Kroasia-Bosnia. Hal tersebut ditentang oleh penduduk Serbia yang ingin
menguasai seluruh wilayah eks Yugoslavia (Susilo, 2009:111). Karena keinginan
dari pihak Serbia inilah yang mengakibatkan konflik-konflik yang terjadi
semakin memuncak dan akhirnya muncul pembersihan etnis muslim dan
Kroasia-Bosnia.
Di bawah
pimpinan Radovan Karadzic, orang-orang Serbia di Bosnia memproklamasikan
Republik Srpska. Dengan bantuan pasukan federal Jenderal Ratko Maldic,
orang-orang Serbia-Bosnia menguasai 70 persen wilayah negeri itu. Dalam konflik
ini, etnis Serbia, yag menjadi masyarakat mayoritas, berusaha melenyapkan etnis
Muslim dan Kroasia. Terjadilah pembantaian terbesar dalam sejarah yang jumlah
korbannya tidak kalah banyak dengan Perang Dunia (Susilo, 2009:111).
Pembunuhan,
penyiksaan, dan pemerkosaan oleh kaum Serbia kemudian menyebabkan
pemimpin-pemimpin Serbia dituduh sebagai penjahat perang oleh PBB. Akhirnya,
setelah perang berdarah yang berlarut-larut, perdamaian di antara ketiga
kelompok tersebut berhasil dipaksakan oleh NATO. Sesuai dengan Kesepakatan
Dayton 1995, keutuhan wilayah Bosnia-Herzegovina ditegakkan, namun negara
tersebut dibagi dalam dua bagian yakni 51 persen wilayah gabungan
Muslim-Kroasia (Federasi Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia (Republik
Srpska) (Susilo, 2009:112).
Kemelut
Konflik Di Negara Bosnia-Herzegovina
Konflik di
Bosnia bermula dari kemelut politik di bekas negara Yugoslavia pada tahun akhir
1980-an dan awal 1990-an yang berujung pada pecahnya beberapa negara anggota
federasi Yugoslavia, mengikuti pecahnya Uni Soviet. Kroasia, Slovenia,
Makedonia, dan Bosnia-Herzegovina memerdekakan diri pada 1991-1992, dilanjutkan
dengan berpisahnya Montenegro pada 2006 dan Kosovo pada 2008. Akan tetapi,
deklarasi kemerdekaan Bosnia tidak berjalan mulus, meskipun dunia internasional
(PBB dan USA) mengakui kemerdekaan Bosnia-Herzegovina, namun di dalam negeri
kemelut baru telah lahir (Susilo, 2009:112). Kemelut permasalahan di dalam
negeri itu bersumber pada permasalahan etnis yang ada.
Etnis Bosnia
dan Kroasia bersepakat atas kemerdekaan Bosnia, namun tidak bagi etnis Serbia.
Etnis Serbia di Bosnia melalui politisinya memboikot referendum kemerdekaan
bahkan meluncurkan serangan militer ke Sarajevo ibu kota Bosnia-Herzegovina
pada tahun 1992. Pemimpin Serbia di Bosnia kemudian mendirikan Republik Srpska
dan membangun tentaranya dengan dukungan penuh dari federasi Yugoslavia
(Serbia) (Susilo, 2009:113). Federasi Yugoslavia yang ada saat itu adalah
gabungan dari negara-negara yang masih tersisa yakni Serbia dan Montenegro.
Federasi Yugoslavia tersebut mendukung etnis Serbia di Bosnia.
Puncak
kekejaman Serbia di Bosnia adalah apa yang disebut sebagai pembantaian di
Srebrenica pada Juli 1959 (Srebrenica Massacre). Tentara Bosnia yang memang
sejak awal amat lemah dibanding kekuatan militer Yugoslavia-Serbia, didukung
oleh pasifnya dukungan pasukan PBB di Srebrenica, memudahkan tentara Serbia di
Bosnia (tentara Republik Srpska) merangsek masuk ke Srebrenica di bawah
pimpinan Jenderal Ratko Mladic. Turut bergabung dalam serangan tersebut para
militer (milisi) Serbia yang menggunakan nama Scorpions. Dalam serangan selama
kurang lebih sepekan, sekitar 8.700 jiwa tewas, baik tentara maupun
masyarakat sipil (bayi, anak-anak, kaum perempuan, dan laki-laki dewasa yang
tidak ikut berperang).
Tidak hanya
pembantaian, dalam pembersihan etnis ini juga terjadi pemerkosaan dan
penganiyaan yang luar biasa kejam. Serangan balasan dari NATO pada tentara
Republik Srpska pada Agustus 1995, dilanjutkan dengan Perjanjian Dayton pada
Desember 1995 dan akhirnya menghentikan konflik Bosnia. Hingga perjanjian
ditandatangani oleh presiden dari tiga negara (Bosnia dan Herzegovina, Kroasia,
dan Serbia) jumlah total korban tewas sekitar 110.000 jiwa dan 1.8 juta jiwa
terpaksa menjadi pengungsi (Susilo,2009:114). Hal inilah yang memunculkan
keprihatinan dari berbagai kalangan yang berperikemanusiaan dan menginginkan
kedamaian.
Kondisi
Negara-Negara Eks Yugoslavia Pasca Konflik
Saat ini
negara-negara tersebut mulai menghirup perdamaian dan ketiga belah pihak
berusaha membangun saling percaya. Akan tetapi, memang perlu waktu lama untuk
menghapuskan permusuhan berabad-abad itu. Salah satu hal yang diusahakan untuk
membangun saling percaya tersebut adalah mengadili para penjahat perang. Mantan
Presiden Republik Srpska Ravadon Karadzic berhasil ditangkap pada 21 Juli 2008,
sementara mantan Panglima Tentara Federal Jenderal Ratko Mladic belum
tertangkap. Dan kini negara Yugoslavia telah tidak ada karena dunia
internasional tidak mengakuinya sebagai negara merdeka. Akhirnya Serbia
mendirikan nama negaranya dengan nama Serbia yang sampai kini diakui oleh dunia
internasional sejak 2003 sebagai negara merdeka. Sehingga kini Kroasia,
Slovenia, Bosnia-Herzegovina dan Serbia adalah negara merdeka yang berdiri
sendiri.
Dampak Dari
Konflik Etnis di Yugoslavia
Konflik
etnis yang terjadi di Yugoslavia
menimbulkan dampak-dampak yang tidak kecil. Dampak tersebut berupa korban jiwa,
materiil dan psikis bagi masyarakat Yugoslavia. Dengan adanya konflik etnis
tersebut, mereka sempat merasakan kecemasan dan juga ketakuatan. Dampak-dampak
dari konlfik etnis Yugoslavia tersebut antara lain:
1. Dalam bidang
politik
Sepeninggal
dari Josep Broz Tito, kehidupan politik dan Negara seakan kehilangan arah.
Kemudian, di pimpin secara kolektif oleh suatu badan Presidensi yang berjumlah
delapan orang dan partai yang juga dipimpin oleh presdium beranggotakan 24
orang. Namun praktek pengambilan keputusan sering berbenturan satu sama lain,
sesuai dengan kepentingan masing-masing dan memperdalam perpecahan.
Perkembangan ini membawa pada jurang perpecahan Yugoslavia pada 1991-an.
Kejadian ini mulai memuncak ketika Slovenia dan Kroasia memproklamirkan
kemerdekaannya pada 25 Juni 1991. Kedua negara ini membentuk angkatan
bersenjata dan menentukan batas negaranya secara sepihak.
2.
Timbulnya
korban jiwa
Konflik yang terjadi dibekas negara Yugoslavia membawa korban yang banyak.
Terutama pada saat terjadinya pembersihan etnis muslim dan Kroasia-Bosnia oleh
bangsa Serbia. Dan juga konflik di negara-negara bekas Yugoslavia ini bisa
dikataan sebagai pembunuhan dan pembantaian paling kejam yang pernah dilakukan
seytelah perang dunia kedua. Hal ini karena jumlah korban yang berjatuhan
banyak dan diperkirakan sekitar 110.000 jiwa dan 1,8 juta jiwa menjadi
pengungsi (Susilo,2009:114).
3.
Disintegrasi
Yugoslavia
Konflik etnis ternyata membawa dampak yang cukup berpengaruh terhadap
kehidupan bernegara dan berbangsa dari negara-negara bekas Yugoslavia. Adanya
konflik ini menimbulkan munculnya negara-negara merdeka pecahan dari
Yugoslavia, anatara lain Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina.
PENUTUP
Konflik
Etnis Yugoslavia mulai muncul kepermukaan setelah kematian dari pemimpinnya
yang sangat berpengaruh yakni Josep Broz Tito. Kematian Josep Bros Tito
ternyata membawa pengaruh terhadap keberlangsungan negara Yugoslavia. Semenjak
itu, Yugoslavia megalami perpecahan menjadi negara-negara kecil yang
memerdekakan sendiri. Negara yang memproklamirkan kemerdekaannya antara lain,
Serbia, Kroasia, Makedonia, Slovenia dan Bosnia-Herzegovina. Akibat dari
pemisahan diri dari negara Federasi Republik Sosialis Yugoslavia adalah
munculnya konflik-konflik antar etnis di negara-negara eks Yugoslvia. Konflik
ini dipicu oleh Serbia yang etnisnya sebagian besar tersebar di bekas
negara-negara bagian dari Federasi Yugoslavia. Konflik etnis ini telah
mengakibatkan banyak korban yang berjatuhan. Meskipun konflik saat ini sudah
tidak terjadi kembali, namun hingga saat ini permasalahan konflik etnis di eks
Yugoslavia ini masih sulit untuk ditangani karena masalah kesepakatan yang
sulit didapatkan dari pihak-pihak yang bertikai. Sehingga masih dapat memicu
timbulnya konflik etnis kembali.
DAFTAR RUJUKAN
Meier, Viktor. 1929. Yugoslavia:
A History of Its Demise. Terjemahan Sabrina Ramet. 2005. London. Taylor
& Francis e-Library.
Oktorino, Nino. 2014. Konflik
Bersejarah-Target: Tito-Kisah Operasi Militer Jerman Menyingkirkan Sang
Pemimpin Partisan Yugoslavia. Jakarta. Elex Media Komputindo.
Susilo, T.A. 2009. Mengenal Benua Eropa. Jogjakarta:
Garasi.
Haryono, I.D. 2007. Intervensi
Kemanusiaan Dalam Konflik Kosovo. (Online). (https://indronet.files.wordpress.com/2007/09/kosovo-2.pdf).
diakses Februari 2015.
Wardhani, Baiq. 2011. Nasionalisme
dan Etnisitas di Eropa Kontemporer. Global & Strategis, (Online), 5
(3):217-236, (http://journal.unair.ac.id).
diakses Februari 2015.
Wikipedia. 2013. Perang
Yugoslavia. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Yugoslavia).
diakses Februari 2015.
Wikipedia. 2013. Sejarah
Yugoslavia. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Yugoslavia).
diakses Februari 2015.