Kamis, 16 April 2015

KONFLIK DAN PERMASALAHAN ETNIS KONTEMPORER DI YUGOSLAVIA



KONFLIK DAN PERMASALAHAN ETNIS KONTEMPORER DI YUGOSLAVIA

M Dian Mutahar                   140731603572
Muhammad Hasmal M         140731600175
Raisa Rahmawati                  140731600695

Abstrak : Konflik etnis di Yugoslavia pada tahun 1990an sampai 2001 disebabkan tingginya prasangka etnis ditambah runtuhnya komunisme, vaccum of power setelah kematian Josep Broz Tito, dan semangat nasionalisme etnis disetiap bangsa yang ada didalam wilayah Yugoslavia. Konflik Yugoslavia yang terkenal adalah konflik Bosnia. Konflik ini menewaskan korban dalam jumlah besar. Dampak konflik ini adalah banyaknya korban jiwa, krisis ekonomi, dan disintegrasi Yugoslavia.

Kata Kunci : Konflik, Etnis, Kontemporer, Yugoslavia.

Akar konflik etnis yang berkepanjangan di Yugoslavia telah muncul pada tahun 1918 saat bubarnya kerajaan Austria-Hongaria dan bersatunya Serbia, Kroasia, dan Slovenia, akan tetapi Kroasia ingin negara berbentuk federasi sedangkan Serbia menginginkan sebuah negara kesatuan (Wikipedia, 2013). Hal ini menimbulkan sebuah konflik yang nantinya meluas menjadi konflik antar etnis yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Selain itu juga memunculkan negara-negara baru merdeka seperti Kroasia.

PEMBAHASAN
Awal Perpecahan Negara Yugoslavia
Perpecahan (atau lebih tepat dipecahkan) kembali terjadi pada tanggal 17 April 1941 (Perang Dunia II) tentara pemberontak Yugoslavia menyerah dan berhasil ditaklukan oleh tentara NAZI Jerman. Hitler membagi Yugoslavia kepada sekutu porosnya yaitu Italia, Hongaria, Bulgaria dan penguasa boneka setempat. Yugoslavia saat itu terdiri dari Serbia (dibawah pemerintahan Jerman), Makedonia (diduduki Bulgaria), Montenegro (diduduki Italia), Negara Kroasia Merdeka, Slovenia (diduduki Jerman, Italia, dan Hongaria), Baranja (diduduki Hongaria), Dalmatia (diduduki Italia), dan Kosovo (diduduki Italia dan Albania) (Oktorino, 2014:5—7).
Berakhirnya Perang Dunia II memunculkan negara federal sosialis di bawah kepemimpinan Tito, setelah prestasinya dalam perang dunia kedua dia berhasil membubarkan monarki dan mengangkat dirinya sebagai diktator Yugoslavia. Dia menindas sentimen kesukuan dan keagamaan yang sifatnya memecah belah, dia memerintah dan mempersatukan negerinya dengan tangan besi (Oktorino, 2014:27). Pada masa kepemimpinannya inilah Yugoslavia bisa dikatakan berada pada masa puncaknya.
Pada tanggal 4 Mei 1980 Tito Sang diktator meninggal sebagaimana yang dituliskan Meier (2005:1) dalam bukunya“On 4 May 1980, Josip Broz Tito, President of the Socialist Federated Republic of Yugoslavia, died”. Kematian Tito membawa banyak dampak bagi Yugoslavia diantaranya  vacum of power (Kekosongan kekuasaan), hal ini membuktikan bahwa stabilitas negara tergantung kepada sosok kharismatik dari seorang Tito sehingga setelah kematiannya, konflik etnis yang telah berhasil ditekan selama pemerintahannya kembali bergolak di Yugoslavia (Haryono, 2007:2).  Konflik etnis itu menimbulkan banyak korban dan kerugian-kerugian baik materiil maupun psikologis.
Pada dasarnya akar konflik berkepanjangan di daerah Yugoslavia menurut Wardhani (2011:222) disebabkan tingginya prasangka etnis, sebagai contoh konflik Bosnia disebabkan oleh keberhasilan Slobodan Milosevic memancing prasangka negatif antara kaum Bosnia dengan Kroasia dan memobilisasi tentara yang menghasilkan pembasmian etnis yang tujuan akhirnya adalah menciptakan Serbia Raya.
Tingginya prasangka etnis ditambah runtuhnya komunisme, vaccum of power, semangat nasionalisme disetiap bangsa yang ada didalam wilayah Yugoslavia dan kepentingan asing menjadi latar belakang yang sempurna bagi tragedi kemanusiaan berupa berbagai konflik etnis dikawasan ini.
Munculnya Akar Konflik Etnis Yugoslavia
Awal mula konflik etnis berkepanjangan yang terjadi di Yugoslavia dimulai pada tahun 1918 ketika bubarnya kerajaan Austria-Hongaria dan bersatunya kerajaan dari Serbia, Kroasia, dan Slovenia setelah Perang Dunia I. Pada tahun 1929 kerajaan dari Serbia, Kroasia, dan Slovenia tersebut berubah nama menjadi Yugoslavia. Yugoslavia sendiri memiliki arti, yaitu ‘orang-orang Slavia Selatan. Yugoslavia menjadi sebuah negara kerajaan yang dipimpin oleh Raja Alexander I (Susilo, 2009:110). Setelah kerajaan-kerajaan tersebut bergabung dan membentuk negara kerajaan Yugoslavia, nama Yugoslavia semakin memiliki eksistensi di dunia Internasional.
Namun, setelah bergabungnya Serbia, Kroasia, dan Slovenia bersatu timbul permasalahan yang dimulai dengan Serbia yang menginginkan sebuah negara kesatuan, sedangkan Kroasia yang menginginkan negara yang berbentuk federasi. Pada tahun 1928, Kroasia mencoba melepaskan diri dari Yugoslavia setelah seorang anggota parlemen dari Kroasia dibunuh. Raja Alexander, sejak tahun 1921, bereaksi keras dengan membubarkan parlemen dan mencanangkan diktatorialisme (Wikipedia, 2015). Perbedaan keinginan dari dalam negara itu, memicu akar konflik dan perepecahan yang nantinya menimbulkan konflik yang berlatarbelakang etnis.
Konflik etnis yang terjadi di Yugoslavia merupakan konflik dan kekerasan yang terjadi selama 1990-2001, namun bibit konflik etnis ini sudah muncul pada Perang Dunia I tahun 1918. Konflik etnis ini melibatkan warga Yugoslavia yang kebanyakan antara bangsa Serbia melawan Kroasia, Bosnia dan Albania. Sering disebut perang paling mematikan di Eropa setelah terjadinya Perang Dunia. Perang ini dicirikan sebagai kejahatan perang dan pembersihan etnis secara besar-besaran. Perang pertama setelah terjadinya Perang Dunia II yang dianggap sebagai genosida dan banyak tokoh kunci perang ini yang dituduh melakukan kejahatan perang (Wikipedia, 2013). Hal ini karena terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap etnis lain oleh Serbia.
Yugoslavia merupakan salah satu negara komunis yang makmur pada masanya. Ketenaran Yugoslavia memuncak ketika Yugoslavia dipimpin Josip Broz Tito yang berkuasa selama 40 tahun.  Namun, tahun 1990-an adalah era yang paling pahit bagi Yugoslavia, dimana pada era itu terjadi pertarungan berdarah dan berbau agama serta etnis yang mengorbankan banyak nyawa manusia. Hal ini diakibatkan tidak adanya tokoh kharismatik seperti Tito yang mampu memimpin Yugoslavia. Pada akhirnya Kroasia, Slovenia, Herzegovina dan Makedonia memisahkan diri. Yang tersisa sebagai negara Yugoslavia hanya Montenegro dan Serbia (Susilo, 2009:111). Pemisahan itu mengakibatkan Yugoslavia hanya tinggal tersisa wilayah Serbia dan Montenegro saja. Dua kawasan itu masih bersatu sejak 2003 hingga 2006 dan pusatnya ada di Beograd. Urusan pertahanan, kebijakan luar negeri, hubungan ekonomi internasional, dan hak asasi manusia (HAM) ditangani bersama, sedangkan urusan sehari-hari ditangani secara terpisah (Susilo, 2009:111). Hal ini layaknya negara-negara federasi yang memiliki kewenangan mengurusi negara bagiannya sendiri dalam bidang-bidang tertentu.
Terbentuknya negara Yugoslavia pada awalnya lebih disebabkan oleh banyaknya persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Misalnya, masalah multinasional, struktural dan upaya demokratisasi Kerajaan Serbia-Kroasia. Untuk mengatasi itu, Raja Alexander menyetujui terbentuknya negara Yugoslavia tersebut (Susilo, 2009:111). Hal ini dimaksudkan untuk meredam persoalan-persoalan yang terjadi.
Pembagian entitas politik Bosnia-Herzegovina terpecah-belah pada 1991 setelah runtuhnya rezim-rezim komunis di Eropa Timur. Mengikuti contoh Kroasia dan Slovenia yang telah merdeka sebelumnya, pada Maret 1992 Bosnia-Herzegovina menyatakan kemerdekaannya melalui referendum yang diikuti oleh masyarakat muslim dan Kroasia-Bosnia. Hal tersebut ditentang oleh penduduk Serbia yang ingin menguasai seluruh wilayah eks Yugoslavia (Susilo, 2009:111). Karena keinginan dari pihak Serbia inilah yang mengakibatkan konflik-konflik yang terjadi semakin memuncak dan akhirnya muncul pembersihan etnis muslim dan Kroasia-Bosnia.
Di bawah pimpinan Radovan Karadzic, orang-orang Serbia di Bosnia memproklamasikan Republik Srpska. Dengan bantuan pasukan federal Jenderal Ratko Maldic, orang-orang Serbia-Bosnia menguasai 70 persen wilayah negeri itu. Dalam konflik ini, etnis Serbia, yag menjadi masyarakat mayoritas, berusaha melenyapkan etnis Muslim dan Kroasia. Terjadilah pembantaian terbesar dalam sejarah yang jumlah korbannya tidak kalah banyak dengan Perang Dunia (Susilo, 2009:111).
Pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan oleh kaum Serbia kemudian menyebabkan pemimpin-pemimpin Serbia dituduh sebagai penjahat perang oleh PBB. Akhirnya, setelah perang berdarah yang berlarut-larut, perdamaian di antara ketiga kelompok tersebut berhasil dipaksakan oleh NATO. Sesuai dengan Kesepakatan Dayton 1995, keutuhan wilayah Bosnia-Herzegovina ditegakkan, namun negara tersebut dibagi dalam dua bagian yakni 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Federasi Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia (Republik Srpska) (Susilo, 2009:112).
Kemelut Konflik Di Negara Bosnia-Herzegovina
Konflik di Bosnia bermula dari kemelut politik di bekas negara Yugoslavia pada tahun akhir 1980-an dan awal 1990-an yang berujung pada pecahnya beberapa negara anggota federasi Yugoslavia, mengikuti pecahnya Uni Soviet. Kroasia, Slovenia, Makedonia, dan Bosnia-Herzegovina memerdekakan diri pada 1991-1992, dilanjutkan dengan berpisahnya Montenegro pada 2006 dan Kosovo pada 2008. Akan tetapi, deklarasi kemerdekaan Bosnia tidak berjalan mulus, meskipun dunia internasional (PBB dan USA) mengakui kemerdekaan Bosnia-Herzegovina, namun di dalam negeri kemelut baru telah lahir (Susilo, 2009:112). Kemelut permasalahan di dalam negeri itu bersumber pada permasalahan etnis yang ada.
Etnis Bosnia dan Kroasia bersepakat atas kemerdekaan Bosnia, namun tidak bagi etnis Serbia. Etnis Serbia di Bosnia melalui politisinya memboikot referendum kemerdekaan bahkan meluncurkan serangan militer ke Sarajevo ibu kota Bosnia-Herzegovina pada tahun 1992. Pemimpin Serbia di Bosnia kemudian mendirikan Republik Srpska dan membangun tentaranya dengan dukungan penuh dari federasi Yugoslavia (Serbia) (Susilo, 2009:113). Federasi Yugoslavia yang ada saat itu adalah gabungan dari negara-negara yang masih tersisa yakni Serbia dan Montenegro. Federasi Yugoslavia tersebut mendukung etnis Serbia di Bosnia.
Puncak kekejaman Serbia di Bosnia adalah apa yang disebut sebagai pembantaian di Srebrenica pada Juli 1959 (Srebrenica Massacre). Tentara Bosnia yang memang sejak awal amat lemah dibanding kekuatan militer Yugoslavia-Serbia, didukung oleh pasifnya dukungan pasukan PBB di Srebrenica, memudahkan tentara Serbia di Bosnia (tentara Republik Srpska) merangsek masuk ke Srebrenica di bawah pimpinan Jenderal Ratko Mladic. Turut bergabung dalam serangan tersebut para militer (milisi) Serbia yang menggunakan nama Scorpions. Dalam serangan selama kurang lebih sepekan, sekitar 8.700 jiwa tewas, baik tentara maupun masyarakat sipil (bayi, anak-anak, kaum perempuan, dan laki-laki dewasa yang tidak ikut berperang).
Tidak hanya pembantaian, dalam pembersihan etnis ini juga terjadi pemerkosaan dan penganiyaan yang luar biasa kejam. Serangan balasan dari NATO pada tentara Republik Srpska pada Agustus 1995, dilanjutkan dengan Perjanjian Dayton pada Desember 1995 dan akhirnya menghentikan konflik Bosnia. Hingga perjanjian ditandatangani oleh presiden dari tiga negara (Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, dan Serbia) jumlah total korban tewas sekitar 110.000 jiwa dan 1.8 juta jiwa terpaksa menjadi pengungsi (Susilo,2009:114). Hal inilah yang memunculkan keprihatinan dari berbagai kalangan yang berperikemanusiaan dan menginginkan kedamaian.
Kondisi Negara-Negara Eks Yugoslavia Pasca Konflik
Saat ini negara-negara tersebut mulai menghirup perdamaian dan ketiga belah pihak berusaha membangun saling percaya. Akan tetapi, memang perlu waktu lama untuk menghapuskan permusuhan berabad-abad itu. Salah satu hal yang diusahakan untuk membangun saling percaya tersebut adalah mengadili para penjahat perang. Mantan Presiden Republik Srpska Ravadon Karadzic berhasil ditangkap pada 21 Juli 2008, sementara mantan Panglima Tentara Federal Jenderal Ratko Mladic belum tertangkap. Dan kini negara Yugoslavia telah tidak ada karena dunia internasional tidak mengakuinya sebagai negara merdeka. Akhirnya Serbia mendirikan nama negaranya dengan nama Serbia yang sampai kini diakui oleh dunia internasional sejak 2003 sebagai negara merdeka. Sehingga kini Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina dan Serbia adalah negara merdeka yang berdiri sendiri.
Dampak Dari Konflik Etnis di Yugoslavia
Konflik etnis yang terjadi  di Yugoslavia menimbulkan dampak-dampak yang tidak kecil. Dampak tersebut berupa korban jiwa, materiil dan psikis bagi masyarakat Yugoslavia. Dengan adanya konflik etnis tersebut, mereka sempat merasakan kecemasan dan juga ketakuatan. Dampak-dampak dari konlfik etnis Yugoslavia tersebut antara lain:
1.      Dalam bidang politik
Sepeninggal dari Josep Broz Tito, kehidupan politik dan Negara seakan kehilangan arah. Kemudian, di pimpin secara kolektif oleh suatu badan Presidensi yang berjumlah delapan orang dan partai yang juga dipimpin oleh presdium beranggotakan 24 orang. Namun praktek pengambilan keputusan sering berbenturan satu sama lain, sesuai dengan kepentingan masing-masing dan memperdalam perpecahan. Perkembangan ini membawa pada jurang perpecahan Yugoslavia pada 1991-an. Kejadian ini mulai memuncak ketika Slovenia dan Kroasia memproklamirkan kemerdekaannya pada 25 Juni 1991. Kedua negara ini membentuk angkatan bersenjata dan menentukan batas negaranya secara sepihak.
2.      Timbulnya korban jiwa
Konflik yang terjadi dibekas negara Yugoslavia membawa korban yang banyak. Terutama pada saat terjadinya pembersihan etnis muslim dan Kroasia-Bosnia oleh bangsa Serbia. Dan juga konflik di negara-negara bekas Yugoslavia ini bisa dikataan sebagai pembunuhan dan pembantaian paling kejam yang pernah dilakukan seytelah perang dunia kedua. Hal ini karena jumlah korban yang berjatuhan banyak dan diperkirakan sekitar 110.000 jiwa dan 1,8 juta jiwa menjadi pengungsi (Susilo,2009:114).
3.      Disintegrasi Yugoslavia
Konflik etnis ternyata membawa dampak yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan bernegara dan berbangsa dari negara-negara bekas Yugoslavia. Adanya konflik ini menimbulkan munculnya negara-negara merdeka pecahan dari Yugoslavia, anatara lain Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina.

PENUTUP
Konflik Etnis Yugoslavia mulai muncul kepermukaan setelah kematian dari pemimpinnya yang sangat berpengaruh yakni Josep Broz Tito. Kematian Josep Bros Tito ternyata membawa pengaruh terhadap keberlangsungan negara Yugoslavia. Semenjak itu, Yugoslavia megalami perpecahan menjadi negara-negara kecil yang memerdekakan sendiri. Negara yang memproklamirkan kemerdekaannya antara lain, Serbia, Kroasia, Makedonia, Slovenia dan Bosnia-Herzegovina. Akibat dari pemisahan diri dari negara Federasi Republik Sosialis Yugoslavia adalah munculnya konflik-konflik antar etnis di negara-negara eks Yugoslvia. Konflik ini dipicu oleh Serbia yang etnisnya sebagian besar tersebar di bekas negara-negara bagian dari Federasi Yugoslavia. Konflik etnis ini telah mengakibatkan banyak korban yang berjatuhan. Meskipun konflik saat ini sudah tidak terjadi kembali, namun hingga saat ini permasalahan konflik etnis di eks Yugoslavia ini masih sulit untuk ditangani karena masalah kesepakatan yang sulit didapatkan dari pihak-pihak yang bertikai. Sehingga masih dapat memicu timbulnya konflik etnis kembali.

DAFTAR RUJUKAN
Meier, Viktor. 1929. Yugoslavia: A History of Its Demise. Terjemahan Sabrina Ramet. 2005. London. Taylor & Francis e-Library.
Oktorino, Nino. 2014. Konflik Bersejarah-Target: Tito-Kisah Operasi Militer Jerman Menyingkirkan Sang Pemimpin Partisan Yugoslavia. Jakarta. Elex Media Komputindo.
Susilo, T.A. 2009. Mengenal Benua Eropa. Jogjakarta: Garasi.
Haryono, I.D. 2007. Intervensi Kemanusiaan Dalam Konflik Kosovo. (Online). (https://indronet.files.wordpress.com/2007/09/kosovo-2.pdf). diakses Februari 2015.
Wardhani, Baiq. 2011. Nasionalisme dan Etnisitas di Eropa Kontemporer. Global & Strategis, (Online), 5 (3):217-236, (http://journal.unair.ac.id). diakses Februari 2015.
Wikipedia. 2013. Perang Yugoslavia. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Yugoslavia). diakses Februari 2015.
Wikipedia. 2013. Sejarah Yugoslavia. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Yugoslavia). diakses Februari 2015.