REVOLUSI INDUSTRI PADA ABAD 17-19 DI INGGRIS
Oleh :
Alfia Hasanah (140731600758)
Alvin Daniswara (140731606302)
Maghfirotus Sa’diyyah (140731604052)
Mahasiswa
Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas
Negeri Malang
ABSTRAK : Revolusi
industri merupakan perubahan dari masyarakat agraris menuju industri dan tenaga
manusia ke tenaga mesin. Revolusi industri di mulai di Inggris pada abad ke-17.
Di Inggris ini mulai mengalami perubahan dari tenaga manusia dan hewan menjadi
mesin-mesin uap untuk mengahasilkan barang. Kemudian pada abad ke-19 revolusi
industri mulai menyebar ke Amerika Serikat dan Daratan Eropa. Sekarang
perubahan pada penggunaan tenaga kerja dari manusia beralih menjadi mesin-mesin
sudah menyebar meliputi hampir seluruh dunia.
Kata Kunci : Revolusi Industri, perubahan, teknologi, struktur sosial.
Beberapa negara tentunya mengalami perubahan secara cepat ataupu
lambat. Perubahan dalam segala aspek tersebut tentunya membawa dampak bagi
negara yang mengalami perubahan itu sendiri. Dalam perubahan terdapat 2 jenis
perubahan, perubahan secara lambat (evolusi) dan perubahan secara cepat
(revolusi).
Di Benua eropa sendiri terdapat berbagai macam perubahan, salah
satunya dalah revolusi industri. Revolusi Industri ini terjadi di Inggris pada
abad ke-17 sampai abad ke-19. Revolusi ini tentu banyak mempengaruhi berbagai
aspek kehidupan pada masa itu.
Hasil dan Pembahasan
Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri
Menurut Nina Karina dan Retno Sasongkowati (2013:197) “Revolusi
Industri adalah perubahan radikal struktur masyarakat agraris ke industri serta
perubahan penggunaan sarana produksi dari tenaga manusia ke tenaga mesin”.
“Perubahan tersebut ditunjukkan dengan mulai digunakannya tenaga mesin sebagai
alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan” (Djaja,
2012:93). perubahan ini meliputi perubahan teknologi, sosioekonomi dan budaya
yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja yang kemudian
didominasi oleh industri dan diproduksi mesin. Awal mula revolusi industri ini
muncul pada abad ke-17 sampai abad ke-19. “Revolusi industri di kawasan Benua Eropa bermula di Inggris, kemudian pada
awal abad ke-19 mulai menyebar ke negara-negara lain di Benua Eropa dan di
Benua Amerika” (Perry, 2013:47). Revolusi industri dapat diakatakan sebagai
suatu peristiwa yang mengubah masyarakat yang waktu itu bekerja dalam bidang
agraris atau pertanian menjadi masyarakat yang bekerja dalam bidang industri.
“Memasuki pertengahan kedua abad ke-19 negara-negara di Eropa dataran mengalami
revolusi industri II. Negara keastuan Jerman yang terbentuk pada tahun 1871
menjadi salah satu negara industri yang kuat, yang tidak saja berhasil
menutupi gap ketertinggalan dari
Inggris selama setengah abad, bahakan dapat melampauinya dalam beberapa aspek”
(Siboro, 2012:38).
Di Inggris, sebelum terjadinya revolusi industri semua pekerjaan
dilakukan secara manual tanpa menggunakan teknologi yang canggih, jadi dalam
pekerjaan sehari-harinya tenaga manusia dan hewan sangat dibutuhkan untuk
menjalankan perekonomian pada waktu itu. Akan tetapi dengan adanya revolusi
industri penggunaan tenaga manusia dan hewan untuk menggerakkan roda
perekonomian mulai berkurang, adanya tenaga mesin yang lebih memudahkan dan
menghasilkan barang lebih cepat mengakibatkan tenaga manusia dan hewan tidak
dipergunakan lagi dan ini menyebabkan banyaknya gelandangan pada masa itu. Menurut
Wahjudi Djaja (2012:95) Adapun sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya
revolusi industri tersebut adalah sebagai berikut: (1) tingkat keamanan di
Inggris pada abad ke-18 sangat tinggi, ini memungkinkan untuk menjalankan
bisnis dengan nyaman tanpa adanya gangguan. Jadi tingkat keamanan ini mendorong
adanya kemaunan serta kemampuan masyarakat pada waktu itu untuk memulai roda
perekonomian dengan rasa aman dan tanpa rasa takut, (2) mulai berkembangnya
kegiatan wiraswasta dan manufaktur. Sebelum revolusi industri kegiatan produksi
dilakukan di rumah-rumah berupa kerajinan rumah atau home industry.
Dalam kegiatan produksi ini, mereka hanya akan memproduksi barang jika ada yang
memesan. Perkembangan yang selanjutnya, mulai muncul minat yang luar biasa dari
masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan barang industri yang lebih
memadai seperti pabrik. Dari sinilah muncul tempat industri, dan masyarakat
tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan bekerja di tempat-tempat yang
disediakan oleh pengusaha sebagai tempat produksi, (3) Inggris memiliki
kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi. Dengan sumber daya alam yang
ada ini, Inggris memanfaatkannya sebagai bahan dasar dalam industri. Batu bara
dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin, sedangkan bijih besi dimanfaatkan
sebagai industri berat. Dengan adanya sumber daya alam yang mendukung serta
adanya kemauan dan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat Inggris ini maka mendorong
revolusi industri di Inggris, (4) pada abad ke-18, Inggris memiliki negara
jajahan. Dari negara jajahan tersebut Inggris mendapatkan bahan baku untuk
kegiatan produksinya, selain itu, negara jajahan tersebut juga dapat dijadikan
sebagai tempat pemasaran hasil produksi tersebut, (5) adanya revolusi Agraria
(pertanian), ini disebabkan karena semakin berkembangnya kerajinan pakaian wol,
yang kemudian memicu lahan pertanian dijadikan sebagai tempat peternakan domba.
Selain itu, harga gandum yang turun mengakibatkan para petani penyewa
kehilangan banyak lahan yang bisa dikerjakan. Karena lahan pertanian tersebut
diubah menjadi lahan peternakan sehingga hanya sedikit membutuhkan tenaga
kerja. Para petani yang tidak memiliki pekerjaan tersebut sebagian bekerja sebagai
penambang dan sebagian lainnya pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, namun
keterbatasan lapangan kerja mengakibatkan banyaknya gelandangan. Kemudian
pemerintah mempekerjakan para gelandangan tersebut sebagai buruh pabrik, karena
pada saat itu, produksi di kota sedang meningkat, (6) munculnya paham ekonomi
liberal, dimana kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan
untuk melakukan kegiatan ekonomi. Paham ini kemudian memberi peluang bagi
perkembangan industri-industri baru di Inggris, (7) perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi melahirkan banyak ilmuan yang mempunyai ide dan
gagasan baru untuk menciptakan sesuatu yang baru. Penemuan-penemuan tersebut
kemudian memperingan pekerjaan manusia, dan dengan inilah revolusi industri
dimulai. (Djaja, 2012:95—98).
Jalannya Revolusi Industri
Pada akhir abad pertengahan kota-kota di Eropa mulai berkembang
dalam bidang kerajinan dan perdagangan. Dalam hal ini warga kota (kaum borjuis)
sangat berpengaruh dan memegang kendali dalam pertumbuhan kota pada saat itu.
Mereka pun saling bersaing secara bebas dalam bidang perekonomian. Menurut Wahjudi Djaja (2012:98—99) menyebutkan Revolusi
industri berjalan melalui tahapan-tahapan
sebagai berikut: (1) domestic system, dalam tahapan ini, para pekerja
atau proses menghasilkan barang berlangsung di rumah pekerja masing-masing atau
disebut juga home industry. Para pekerja ini menghasilkan barang sesuai
dengan permintaan majikan, upah yang diperoleh didasarkan pada berapa jumlah
barang yang dikerjakan, (2) manufacture, setelah kerajinan industri
mulai berkembang, maka diperlukan tempat khusus bagi para pekerja untuk
menghasilkan barang yang lebih banyak dan lebih baik. Dengan didirikannya
manufaktur (pabrik) jumlah tenaga kerja akan lebih banyak dan berdampak pada
jumlah barang yang dihasilkan juga. Selain itu majikan dapat mengawasi langsung
para pekerja yang sedang bekerja untuk menghasilkan barang yang lebih bermutu
dan juga cara pengerjaannya. Pabrik ini biasanya didirikan di belakang rumah
majikannya. Rumah majikan tersebut di bagi menjadi tiga, pada bagian depan
dijadikan sebagai toko untuk menjual barang hasil produksi, bagian tengah rumah
dijadikan sebagai rumah majikan dan pada bagian belakang rumah untuk tempat
produksi barang. Dengan sistem yang semacam ini hubungan antara pekerja (buruh)
dan majikan akan lebih akrab, (3) factory system, dalam tahapan ini,
pabrik sudah didirikan berbeda dengan tempat tinggal majikan dan tempat
pemasaran barang. Majikan mempunyai rumah sendiri dan tidak tercampur dengan
kegiatan produksi maupun pemasaran. Jumlah para pekerja mencapai puluhan bahkan
ratusan. Barang yang dihasilkan untuk dipasarkan.
Perubahan-Perubahan di Bidang Teknologi
Setelah industri terjadi tentunya banyak perubahan yang terjadi
dalam berbagai bidang, salah satunya terjadi di bidang teknologi. Berikut adalah
perubahan-perubahan yang terjadi di bidang teknologi: (1) industri kapas, “pada
1733, jauh sebelum ekspansi mulai, penemuan sederhana flaying shuttle
(alat tenun) oleh John Kay menungkinkan para penenun menggandakan hasil
mereka…. Dalam lima tahun, mesin tenun Richard Arkwright dapat digerakkan oleh
air atau manusia dan mesin tenun Samuel Crompton (1779) menggerakkan banyak
kumparan pertama dengan menggunakan energi manusia dan kemudian energi hewan
dan air…. Edmund Cargwright mengembangkan alat tenun bermesin pada 1785”
(Perry, 2013:51). Dengan adanya penemuan-penemuan baru ini maka banyak alat
untuk menenun yang dihasilkan. Penemuan alat tersebut semakin mengalami
perkembangan fungsi untuk memudahkan pekerjaan, (2) mesin uap, “James Watt pada
1763 menemukan mesin uap…. Temuan James Watt dapat digunakan di pabrik-pabrik….
Dengan mengginakan bahan bakar batu bara, mesin uap temuan Watt, menyebabkan
pabrik-pabrik tidak bergantung lagi pada tenaga air dan dapat didirikan di mana
saja” (Djaja, 2012:100). Dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt ini maka
pabrik-pabrik tidak harus didirikan di dekat sungai lagi, karena sudah
menggunakan tenaga batu bara, (3) industri besi, “ pada tahun 1780-an usaha
coba-coba telah menyempurnakan produsi besi tempa, yang merupakan logam yang
kemudian digunakan secara luas hingga baja mulai diproduksi secara murah pada
tahun 1860-an…. Industri besi memunculkan permintaan yang besar pada
tambang batu bara untuk bahan bakar
tungku-tungkunya…. Produktifitas yang lebih besar di bidang batu memungkinkan
perbaikan yang terus berlanjut dalam peleburan besi” (Perry, 2013:52). Dengan
adanya industri besi ini membuat produksi batu bara berkembang sehingga membuat
perbaikan dalam industri besi itu sendiri, (4) transportasi, “Pada tahun 1830,
jalur kereta api pertama dibangun di Britania yang menghubungkan Manchester dan
Liverpool; hal ini memicu suatu zaman pembangunan kereta api di banyak dunia”
(Perry, 2013:53). Dengan adanya alat transportasi ini memudahkan mereka
berinteraksi daerah satu dengan daerah yang lain.
Dampak Revolusi Industri
Revolusi industri mengubah inggris menjadi negara industri yang
maju dan modern. Di inggris muncul pusat-pusat industri seperti .Lancashire,
Manchester, Liverpool, dan Birmingham. (Djaja, 2012:102).
Wahjudi Djaja (2012:103—109) menyebutkan beberapa dampak dari
adanya revolusi industri. Adapun dampak dari revolusi industri adalah sebagai
berikut: (1) dampak di bidang ekonomi adalah perubahan yang sangat cepat
dibidang industri membawa akibat yang luas diberbagai aspek kehidupan: (a) munculnya
kapitalisme, “kapitalisme adalah suatu paham ekonomi yang berpandangan bahwa
pendapatan (laba) dapat ditingkatkan dengan cara ditunjang oleh sejumlah modal
yang banyak, pengusaha sektor produksi, sumber bahan baku, distribusi
(pemasaran), dan teknologi terbaru” (Djaja, 2012:103). Dalam sistem kapitalisme
ini para kaum kapitalis berharap untuk diberikan kebebasan sebebas-bebasnya
tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk menghasilkan barang dan bersaing
secara bebas, sehingga kemakmuran dalam negara tersebut diatur oleh sistem
pasar. “Syarat terpenting dari perkembangan kapitalisme ialah digunakannya dana
sebagai basis dari usaha-usaha yang mendatangkan keuntungan” (Kuntowijoyo,
2013:90), (b) pengambilan tanah untuk lahan industri, “dengan modal yang
dimilkinya, mereka menguasai perekonomian. Bahkan dengan modalnya itu mereka
dapat meluaskan lapangan usaha industrinya” (Djaja, 2012:104). Jadi para
pemilik modal atau kaum kapitalis mengambil tanah untuk kepentingan perluasan
industrinya, (c) negeri jajahan sebagai daerah pemasaran, “bangsa Eropa yang
mempunyai daerah jajahan, menjadikannya sebagai daerah bahan industri, dan
sebagai daerah penanaman modal” (Djaja, 2012: 105). Daerah jajahan milik Eropa
selain dimanfaatkan sebagai pemasok sumber daya alam sebagai bahan baku
industri, juga dijadikan sebagai derah pemasaran hasil produksi, sehingga
mereka dapat memasarkan hasil produksinya dengan mudah, (d) barang melimpah dan
harga murah, “revolusi industri telah menimbulkan usaha industri dan pabrik
secara besar-besaran dengan proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu
singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produk barang menjadi
berlipat ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah serta dalam jumlah yang banyak
sehingga harga menjadi lebih murah" (Djaja, 2012:106). Dengan adanya
revolusi industri menghasilkan penemuaan-penemuan baru berupa alat produksi
yang memudahkan untuk memproduksi suatu barang sehingga tidak memerlukan tenaga
manual (seperti manusia dan hewan) untuk menghasilkan barang. Mekanisme
produksi pun semakin cepat dan dapat menghasilkan barang lebih banyak. Ini
mengakibatkan jumlah barang melimpah dan membuat harga barang tersebut menjadi
murah, (e) perusahaan kecil gulung tikar, “dengan penggunaan mesin-mesin maka
biaya produksi menjadi relative kecil sehingga harga barang-barang pun relative
lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam gulung tikar
karena tidak mampu bersaing” (Djaja, 2012:106). Para perusahaan yang tidak
memanfaatkan perkembangan teknologi atau tidak menggunakan mesin-mesin canggih
sebagai penghasil barang, mengakibtkan mereka tidak dapat bersaing, karena
barang yang dihasilkan akan lebih sedikit, (f) perdagangan makin berkembang,
“berkat peralatan perhubungan yang modern, cepat dan murah, produksi local
berubah menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional
makin berkembang pesat” (Djaja, 2012:106). Sebelum revolusi industri terjadi
produksi barang hanya dilakukan di rumah-rumah pekerja saja kemudian setelah
adanya revolusi industri, produksi barang semakin berkembang dan dapat
dihasilkan dengan mudah karena dibantu oleh mesin-mesin yang ditemukan. Maka ini
mengakibtakan juga pada perdagangan yang terus mengalami perkembangan, (g) transportasi
makin lancar, “adanya penemuan diberbagai sarana dan prasarana transportasi
makin sempurnah dan lancar” (Djaja, 2012:106). Ditemukannya alat transportasi
memudah masyarakat untuk pergi dari satu daerah ke daerah lainnya, ini membuat
dinamika kehidupan masyarakat semakin meningkat. (2) akibat dibidang sosial
adalah: (a) berkembangnya urbanisasi, “berkembangnya industri telah menimbulkan
kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang baru” (Djaja, 2012: 106).
Berkembangnya industri yang mengakibatkan adanya pusat-pusat daerah industri
membuat masyarakat berbondong-bondong pindah dari desa ke kota untuk
mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi, (b) upah buruh rendah, “akibat
makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga
makin melimpah” (Djaja, 2012:107). Banyaknya penduduk yang berpindah ke kota
untuk mencari pekerjaan justru menimbulkan banyaknya tenaga kerja yang tidak
dibutuhkan karena sebagian besar proses produksi menggunakan mesin. Ini
mengakibatkan upah yang dibayarkan oleh majikan hanya sedikit, (c) munculnya
golongan pengusaha dan golongan buruh, “di dalam kegiatan industraliasasi
karena adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pengusaha (majikan? Yang
memiliki industri atau pabrik.” (Djaja, 107 ). Deng munculnya revolusi industri
ini mengakibatkan terbentuknya stratifikasi sosial secara vertikal, yaitu kaum
kapitalis dan buruh, (d) adanya kesenjangan antara majikan dan buruh, “dengan
munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah dan satu pihak, sedangkan pihak
lain adanya golongan buruh yang hidup menderita, menimbulkan kesenjangan antara
majikan dan buruh” (Djaja, 2012:107).
Perbedaan ini mengakibatkan kesenjangan antara buruh dan majikan yang berdampak
pada demo buruh dimana-mana yang menuntut untuk perbaikan nasib, (e) munculnya
revolusi sosial, “pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan
nasib kaum buruh dan orang miskin” (Djaja, 2012:108). Adanya kesenjangan antara
kaum buruh dan majikan yang menimbulkan kaum buruh berdemo untuk menuntut nasib
yang lebih baik, maka pemerintah setempat mengeluarkan undang-undang yang
menjamin perbaikan nasib kaum buruh. (3) akibat di bidang politik adalah: (a) munculnya
gerakan sosialis, “kaum buruh yang diberlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha
mulai bergerak menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka” (Djaja,
2012:108). Akibat ketidakadilan dari kaum
pengusaha tersebut maka kaum buruh ini membentuk sautu gerakan yang
diberi nama gerakan sosialis, (b) munculnya partai politik, “Apalagi makin
kuatnya keduduan kaum buruh di parlemen mendorong dibentuknya suatu wadah
perjuangan politik, yakni Labour Party (Partai Buruh)” (Djaja,
2012:109). Dengan kuatnya buruh di parlemen mereka bisa membentuk suatu partai
yang digunakan mereka untuk memperjuangkan kaum mereka dalam bidang politik,
(c) munculnya imperialisme modern, “kaum pengusaha/ kapitalis umunya mempunyai
pengaruh yang kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi
kelangsungan industrialisasinya” (Djaja, 2012:109). Dengan adanya kaum
kapitalis tersebut menyebabkan terjadinya imperialisme modern yang
mengakibatkan terjadinya kolonialisme di berbagai negara untuk mencari bahan
mentah dan tempat pemasaran.
Daftar Rujukan
Djaja, Wahjudi.
2012. Sejarah Eropa: Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta:
Ombak.
Perry, Marvin.
2013. Perdaban Barat: Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global. Terjemahan
Saut Pasaribu. Bantul: Kreasi Wacana.
Kuntowijoyo.
2013. Peran Borjuasi: Dalam Transformasi Eropa. Yogyakarta: Ombak.
Karina, N.
& Sasongkowati, R. 2013. History Of The World: Sejarah Dunia Kuno dan
Modern. Yogyakarta: Indoliterasi.
Siboro, Julius.
2012. Sejarah Eropa: Dari Masa Menjelang Perang Dunia 1 Sampai Masa
Antarbellum. Yogyakarta: Ombak.