Sabtu, 31 Januari 2015

Revolusi Industri


REVOLUSI INDUSTRI PADA ABAD 17-19 DI INGGRIS

Oleh :
Alfia Hasanah                         (140731600758)
Alvin Daniswara                     (140731606302)
Maghfirotus Sa’diyyah           (140731604052)
Mahasiswa Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang


ABSTRAK : Revolusi industri merupakan perubahan dari masyarakat agraris menuju industri dan tenaga manusia ke tenaga mesin. Revolusi industri di mulai di Inggris pada abad ke-17. Di Inggris ini mulai mengalami perubahan dari tenaga manusia dan hewan menjadi mesin-mesin uap untuk mengahasilkan barang. Kemudian pada abad ke-19 revolusi industri mulai menyebar ke Amerika Serikat dan Daratan Eropa. Sekarang perubahan pada penggunaan tenaga kerja dari manusia beralih menjadi mesin-mesin sudah menyebar meliputi hampir seluruh dunia.

Kata Kunci : Revolusi Industri, perubahan, teknologi, struktur sosial.

Beberapa negara tentunya mengalami perubahan secara cepat ataupu lambat. Perubahan dalam segala aspek tersebut tentunya membawa dampak bagi negara yang mengalami perubahan itu sendiri. Dalam perubahan terdapat 2 jenis perubahan, perubahan secara lambat (evolusi) dan perubahan secara cepat (revolusi).
Di Benua eropa sendiri terdapat berbagai macam perubahan, salah satunya dalah revolusi industri. Revolusi Industri ini terjadi di Inggris pada abad ke-17 sampai abad ke-19. Revolusi ini tentu banyak mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pada masa itu.
Hasil dan Pembahasan
Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri
Menurut Nina Karina dan Retno Sasongkowati (2013:197) “Revolusi Industri adalah perubahan radikal struktur masyarakat agraris ke industri serta perubahan penggunaan sarana produksi dari tenaga manusia ke tenaga mesin”. “Perubahan tersebut ditunjukkan dengan mulai digunakannya tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan” (Djaja, 2012:93). perubahan ini meliputi perubahan teknologi, sosioekonomi dan budaya yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja yang kemudian didominasi oleh industri dan diproduksi mesin. Awal mula revolusi industri ini muncul pada abad ke-17 sampai abad ke-19. “Revolusi industri di kawasan  Benua Eropa bermula di Inggris, kemudian pada awal abad ke-19 mulai menyebar ke negara-negara lain di Benua Eropa dan di Benua Amerika” (Perry, 2013:47). Revolusi industri dapat diakatakan sebagai suatu peristiwa yang mengubah masyarakat yang waktu itu bekerja dalam bidang agraris atau pertanian menjadi masyarakat yang bekerja dalam bidang industri. “Memasuki pertengahan kedua abad ke-19 negara-negara di Eropa dataran mengalami revolusi industri II. Negara keastuan Jerman yang terbentuk pada tahun 1871 menjadi salah satu negara industri yang kuat, yang tidak saja berhasil menutupi  gap ketertinggalan dari Inggris selama setengah abad, bahakan dapat melampauinya dalam beberapa aspek” (Siboro, 2012:38).
Di Inggris, sebelum terjadinya revolusi industri semua pekerjaan dilakukan secara manual tanpa menggunakan teknologi yang canggih, jadi dalam pekerjaan sehari-harinya tenaga manusia dan hewan sangat dibutuhkan untuk menjalankan perekonomian pada waktu itu. Akan tetapi dengan adanya revolusi industri penggunaan tenaga manusia dan hewan untuk menggerakkan roda perekonomian mulai berkurang, adanya tenaga mesin yang lebih memudahkan dan menghasilkan barang lebih cepat mengakibatkan tenaga manusia dan hewan tidak dipergunakan lagi dan ini menyebabkan banyaknya gelandangan pada masa itu. Menurut Wahjudi Djaja (2012:95) Adapun sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya revolusi industri tersebut adalah sebagai berikut: (1) tingkat keamanan di Inggris pada abad ke-18 sangat tinggi, ini memungkinkan untuk menjalankan bisnis dengan nyaman tanpa adanya gangguan. Jadi tingkat keamanan ini mendorong adanya kemaunan serta kemampuan masyarakat pada waktu itu untuk memulai roda perekonomian dengan rasa aman dan tanpa rasa takut, (2) mulai berkembangnya kegiatan wiraswasta dan manufaktur. Sebelum revolusi industri kegiatan produksi dilakukan di rumah-rumah berupa kerajinan rumah atau home industry. Dalam kegiatan produksi ini, mereka hanya akan memproduksi barang jika ada yang memesan. Perkembangan yang selanjutnya, mulai muncul minat yang luar biasa dari masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan barang industri yang lebih memadai seperti pabrik. Dari sinilah muncul tempat industri, dan masyarakat tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan bekerja di tempat-tempat yang disediakan oleh pengusaha sebagai tempat produksi, (3) Inggris memiliki kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi. Dengan sumber daya alam yang ada ini, Inggris memanfaatkannya sebagai bahan dasar dalam industri. Batu bara dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin, sedangkan bijih besi dimanfaatkan sebagai industri berat. Dengan adanya sumber daya alam yang mendukung serta adanya kemauan dan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat Inggris ini maka mendorong revolusi industri di Inggris, (4) pada abad ke-18, Inggris memiliki negara jajahan. Dari negara jajahan tersebut Inggris mendapatkan bahan baku untuk kegiatan produksinya, selain itu, negara jajahan tersebut juga dapat dijadikan sebagai tempat pemasaran hasil produksi tersebut, (5) adanya revolusi Agraria (pertanian), ini disebabkan karena semakin berkembangnya kerajinan pakaian wol, yang kemudian memicu lahan pertanian dijadikan sebagai tempat peternakan domba. Selain itu, harga gandum yang turun mengakibatkan para petani penyewa kehilangan banyak lahan yang bisa dikerjakan. Karena lahan pertanian tersebut diubah menjadi lahan peternakan sehingga hanya sedikit membutuhkan tenaga kerja. Para petani yang tidak memiliki pekerjaan tersebut sebagian bekerja sebagai penambang dan sebagian lainnya pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, namun keterbatasan lapangan kerja mengakibatkan banyaknya gelandangan. Kemudian pemerintah mempekerjakan para gelandangan tersebut sebagai buruh pabrik, karena pada saat itu, produksi di kota sedang meningkat, (6) munculnya paham ekonomi liberal, dimana kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Paham ini kemudian memberi peluang bagi perkembangan industri-industri baru di Inggris, (7) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan banyak ilmuan yang mempunyai ide dan gagasan baru untuk menciptakan sesuatu yang baru. Penemuan-penemuan tersebut kemudian memperingan pekerjaan manusia, dan dengan inilah revolusi industri dimulai. (Djaja, 2012:95—98).
Jalannya Revolusi Industri
Pada akhir abad pertengahan kota-kota di Eropa mulai berkembang dalam bidang kerajinan dan perdagangan. Dalam hal ini warga kota (kaum borjuis) sangat berpengaruh dan memegang kendali dalam pertumbuhan kota pada saat itu. Mereka pun saling bersaing secara bebas dalam bidang perekonomian. Menurut  Wahjudi Djaja (2012:98—99) menyebutkan Revolusi industri  berjalan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) domestic system, dalam tahapan ini, para pekerja atau proses menghasilkan barang berlangsung di rumah pekerja masing-masing atau disebut juga home industry. Para pekerja ini menghasilkan barang sesuai dengan permintaan majikan, upah yang diperoleh didasarkan pada berapa jumlah barang yang dikerjakan, (2) manufacture, setelah kerajinan industri mulai berkembang, maka diperlukan tempat khusus bagi para pekerja untuk menghasilkan barang yang lebih banyak dan lebih baik. Dengan didirikannya manufaktur (pabrik) jumlah tenaga kerja akan lebih banyak dan berdampak pada jumlah barang yang dihasilkan juga. Selain itu majikan dapat mengawasi langsung para pekerja yang sedang bekerja untuk menghasilkan barang yang lebih bermutu dan juga cara pengerjaannya. Pabrik ini biasanya didirikan di belakang rumah majikannya. Rumah majikan tersebut di bagi menjadi tiga, pada bagian depan dijadikan sebagai toko untuk menjual barang hasil produksi, bagian tengah rumah dijadikan sebagai rumah majikan dan pada bagian belakang rumah untuk tempat produksi barang. Dengan sistem yang semacam ini hubungan antara pekerja (buruh) dan majikan akan lebih akrab, (3) factory system, dalam tahapan ini, pabrik sudah didirikan berbeda dengan tempat tinggal majikan dan tempat pemasaran barang. Majikan mempunyai rumah sendiri dan tidak tercampur dengan kegiatan produksi maupun pemasaran. Jumlah para pekerja mencapai puluhan bahkan ratusan. Barang yang dihasilkan untuk dipasarkan.
Perubahan-Perubahan di Bidang Teknologi
Setelah industri terjadi tentunya banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang, salah satunya terjadi di bidang teknologi. Berikut adalah perubahan-perubahan yang terjadi di bidang teknologi: (1) industri kapas, “pada 1733, jauh sebelum ekspansi mulai, penemuan sederhana flaying shuttle (alat tenun) oleh John Kay menungkinkan para penenun menggandakan hasil mereka…. Dalam lima tahun, mesin tenun Richard Arkwright dapat digerakkan oleh air atau manusia dan mesin tenun Samuel Crompton (1779) menggerakkan banyak kumparan pertama dengan menggunakan energi manusia dan kemudian energi hewan dan air…. Edmund Cargwright mengembangkan alat tenun bermesin pada 1785” (Perry, 2013:51). Dengan adanya penemuan-penemuan baru ini maka banyak alat untuk menenun yang dihasilkan. Penemuan alat tersebut semakin mengalami perkembangan fungsi untuk memudahkan pekerjaan, (2) mesin uap, “James Watt pada 1763 menemukan mesin uap…. Temuan James Watt dapat digunakan di pabrik-pabrik…. Dengan mengginakan bahan bakar batu bara, mesin uap temuan Watt, menyebabkan pabrik-pabrik tidak bergantung lagi pada tenaga air dan dapat didirikan di mana saja” (Djaja, 2012:100). Dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt ini maka pabrik-pabrik tidak harus didirikan di dekat sungai lagi, karena sudah menggunakan tenaga batu bara, (3) industri besi, “ pada tahun 1780-an usaha coba-coba telah menyempurnakan produsi besi tempa, yang merupakan logam yang kemudian digunakan secara luas hingga baja mulai diproduksi secara murah pada tahun 1860-an…. Industri besi memunculkan permintaan yang besar pada tambang  batu bara untuk bahan bakar tungku-tungkunya…. Produktifitas yang lebih besar di bidang batu memungkinkan perbaikan yang terus berlanjut dalam peleburan besi” (Perry, 2013:52). Dengan adanya industri besi ini membuat produksi batu bara berkembang sehingga membuat perbaikan dalam industri besi itu sendiri, (4) transportasi, “Pada tahun 1830, jalur kereta api pertama dibangun di Britania yang menghubungkan Manchester dan Liverpool; hal ini memicu suatu zaman pembangunan kereta api di banyak dunia” (Perry, 2013:53). Dengan adanya alat transportasi ini memudahkan mereka berinteraksi daerah satu dengan daerah yang lain. 
Dampak Revolusi Industri
Revolusi industri mengubah inggris menjadi negara industri yang maju dan modern. Di inggris muncul pusat-pusat industri seperti .Lancashire, Manchester, Liverpool, dan Birmingham. (Djaja, 2012:102).
Wahjudi Djaja (2012:103—109) menyebutkan beberapa dampak dari adanya revolusi industri. Adapun dampak dari revolusi industri adalah sebagai berikut: (1) dampak di bidang ekonomi adalah perubahan yang sangat cepat dibidang industri membawa akibat yang luas diberbagai aspek kehidupan: (a) munculnya kapitalisme, “kapitalisme adalah suatu paham ekonomi yang berpandangan bahwa pendapatan (laba) dapat ditingkatkan dengan cara ditunjang oleh sejumlah modal yang banyak, pengusaha sektor produksi, sumber bahan baku, distribusi (pemasaran), dan teknologi terbaru” (Djaja, 2012:103). Dalam sistem kapitalisme ini para kaum kapitalis berharap untuk diberikan kebebasan sebebas-bebasnya tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk menghasilkan barang dan bersaing secara bebas, sehingga kemakmuran dalam negara tersebut diatur oleh sistem pasar. “Syarat terpenting dari perkembangan kapitalisme ialah digunakannya dana sebagai basis dari usaha-usaha yang mendatangkan keuntungan” (Kuntowijoyo, 2013:90), (b) pengambilan tanah untuk lahan industri, “dengan modal yang dimilkinya, mereka menguasai perekonomian. Bahkan dengan modalnya itu mereka dapat meluaskan lapangan usaha industrinya” (Djaja, 2012:104). Jadi para pemilik modal atau kaum kapitalis mengambil tanah untuk kepentingan perluasan industrinya, (c) negeri jajahan sebagai daerah pemasaran, “bangsa Eropa yang mempunyai daerah jajahan, menjadikannya sebagai daerah bahan industri, dan sebagai daerah penanaman modal” (Djaja, 2012: 105). Daerah jajahan milik Eropa selain dimanfaatkan sebagai pemasok sumber daya alam sebagai bahan baku industri, juga dijadikan sebagai derah pemasaran hasil produksi, sehingga mereka dapat memasarkan hasil produksinya dengan mudah, (d) barang melimpah dan harga murah, “revolusi industri telah menimbulkan usaha industri dan pabrik secara besar-besaran dengan proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produk barang menjadi berlipat ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah" (Djaja, 2012:106). Dengan adanya revolusi industri menghasilkan penemuaan-penemuan baru berupa alat produksi yang memudahkan untuk memproduksi suatu barang sehingga tidak memerlukan tenaga manual (seperti manusia dan hewan) untuk menghasilkan barang. Mekanisme produksi pun semakin cepat dan dapat menghasilkan barang lebih banyak. Ini mengakibatkan jumlah barang melimpah dan membuat harga barang tersebut menjadi murah, (e) perusahaan kecil gulung tikar, “dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relative kecil sehingga harga barang-barang pun relative lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam gulung tikar karena tidak mampu bersaing” (Djaja, 2012:106). Para perusahaan yang tidak memanfaatkan perkembangan teknologi atau tidak menggunakan mesin-mesin canggih sebagai penghasil barang, mengakibtkan mereka tidak dapat bersaing, karena barang yang dihasilkan akan lebih sedikit, (f) perdagangan makin berkembang, “berkat peralatan perhubungan yang modern, cepat dan murah, produksi local berubah menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional makin berkembang pesat” (Djaja, 2012:106). Sebelum revolusi industri terjadi produksi barang hanya dilakukan di rumah-rumah pekerja saja kemudian setelah adanya revolusi industri, produksi barang semakin berkembang dan dapat dihasilkan dengan mudah karena dibantu oleh mesin-mesin yang ditemukan. Maka ini mengakibtakan juga pada perdagangan yang terus mengalami perkembangan, (g) transportasi makin lancar, “adanya penemuan diberbagai sarana dan prasarana transportasi makin sempurnah dan lancar” (Djaja, 2012:106). Ditemukannya alat transportasi memudah masyarakat untuk pergi dari satu daerah ke daerah lainnya, ini membuat dinamika kehidupan masyarakat semakin meningkat. (2) akibat dibidang sosial adalah: (a) berkembangnya urbanisasi, “berkembangnya industri telah menimbulkan kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang baru” (Djaja, 2012: 106). Berkembangnya industri yang mengakibatkan adanya pusat-pusat daerah industri membuat masyarakat berbondong-bondong pindah dari desa ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi, (b) upah buruh rendah, “akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga makin melimpah” (Djaja, 2012:107). Banyaknya penduduk yang berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan justru menimbulkan banyaknya tenaga kerja yang tidak dibutuhkan karena sebagian besar proses produksi menggunakan mesin. Ini mengakibatkan upah yang dibayarkan oleh majikan hanya sedikit, (c) munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh, “di dalam kegiatan industraliasasi karena adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pengusaha (majikan? Yang memiliki industri atau pabrik.” (Djaja, 107 ). Deng munculnya revolusi industri ini mengakibatkan terbentuknya stratifikasi sosial secara vertikal, yaitu kaum kapitalis dan buruh, (d) adanya kesenjangan antara majikan dan buruh, “dengan munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah dan satu pihak, sedangkan pihak lain adanya golongan buruh yang hidup menderita, menimbulkan kesenjangan antara majikan dan  buruh” (Djaja, 2012:107). Perbedaan ini mengakibatkan kesenjangan antara buruh dan majikan yang berdampak pada demo buruh dimana-mana yang menuntut untuk perbaikan nasib, (e) munculnya revolusi sosial, “pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin” (Djaja, 2012:108). Adanya kesenjangan antara kaum buruh dan majikan yang menimbulkan kaum buruh berdemo untuk menuntut nasib yang lebih baik, maka pemerintah setempat mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh. (3) akibat di bidang politik adalah: (a) munculnya gerakan sosialis, “kaum buruh yang diberlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka” (Djaja, 2012:108). Akibat ketidakadilan dari kaum  pengusaha tersebut maka kaum buruh ini membentuk sautu gerakan yang diberi nama gerakan sosialis, (b) munculnya partai politik, “Apalagi makin kuatnya keduduan kaum buruh di parlemen mendorong dibentuknya suatu wadah perjuangan politik, yakni Labour Party (Partai Buruh)” (Djaja, 2012:109). Dengan kuatnya buruh di parlemen mereka bisa membentuk suatu partai yang digunakan mereka untuk memperjuangkan kaum mereka dalam bidang politik, (c) munculnya imperialisme modern, “kaum pengusaha/ kapitalis umunya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya” (Djaja, 2012:109). Dengan adanya kaum kapitalis tersebut menyebabkan terjadinya imperialisme modern yang mengakibatkan terjadinya kolonialisme di berbagai negara untuk mencari bahan mentah dan tempat pemasaran.
Daftar Rujukan
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa: Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.
Perry, Marvin. 2013. Perdaban Barat: Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global. Terjemahan Saut Pasaribu. Bantul: Kreasi Wacana.
Kuntowijoyo. 2013. Peran Borjuasi: Dalam Transformasi Eropa. Yogyakarta: Ombak.
Karina, N. & Sasongkowati, R. 2013. History Of The World: Sejarah Dunia Kuno dan Modern. Yogyakarta: Indoliterasi.
Siboro, Julius. 2012. Sejarah Eropa: Dari Masa Menjelang Perang Dunia 1 Sampai Masa Antarbellum. Yogyakarta: Ombak.

Jumat, 23 Januari 2015

Sejarah Eropa Masa Renaisans


MASA KEBANGKITAN EROPA DARI KEGELAPAN - RENAISANS AGE

Oleh:
1.      Melda Amelia Rohana            (140731604240)
2.      Rachman Ardiansyah              (140731601955)
3.      Rofiqatun Hasanah                 (140731601504)
4.      Yovi Rijal Khosiin                  (140731605488)
Mahasiswa Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang

Abstrak: Pada abad pertengahan, Eropa mengalami masa-masa gelap, di mana gereja sangat mendominasi segala aspek kehidupan masyarakat Eropa. Pada masa Dark Age ini, ilmu pengetahuan layaknya di “penjarakan”, susah sekali berkembang karena adanya otoritas dari pihak gereja. Di abad ke-14 sampai abad ke-17, munculah sebuah gerakan perubahan yang membuka jalan berkembangnya ilmu pengetahuan dan menjadi sebuah revolusi kebudayaan. Zaman ini disebut sebagai zaman Renaisans atau zaman bangkitnya Eropa dari masa gelap dari segala aspek kehidupan.
Kata Kunci: Abad pertengahan, Dark Age, gereja, ilmu pengetahuan, Renaisans.
            Dewasa ini, aspek dari semua kehidupan merupakan implikasi dari hasil budaya pemikiran barat. Secara histori negara barat terbagi dalam empat periodisasi sejarah. Pertama negara barat dikenal dengan peradaban tuanya yaitu Yunani Kuno dan Romawi Kuno, kedua adalah abad pertengahan, ketiga adalah zaman abad modern, dan keempat adalah abad kontemporer. Setiap periode atau zaman ada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.
            Salah satu contoh di abad pertengahan terjadi peristiwa yang kita kenal dengan Renaisans. Renaisans terjadi sekitar abad ke-16 dimana peristiwa ini dilatarbelakangi oleh penguasaan di Barat pada waktu itu yang lebih berpegang teguh pada dogma-dogma agama, tetapi mereka disisi lain mengabaikan dogma-dogma agama tersebut dan memenjarakn ilmu pengetahuan untuk berkembang.
Hasil dan Pembahasan
Latar Belakang Munculnya Renaisans
Renaisans lahir karena pada abad pertengahan (abad ke-15—16) kala itu di Eropa khususnya di Italia mengalami perubahan yang sangat drastis. Runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan ilmu-ilmu pengetahuan saat itu dinilai tidak baik dan menyalahi aturan agama yang berkembang, yaitu agama Kristen. Hal ini disebabkan oleh Kekaisaran Romawi barat yang menghadapi banyak serangan pa abad ke-5 dan ke-6 yang menyebabkan Kekaisaran tersebut runtuh pada 476 M setelah Romulus Augustus dipaksa untuk menyerah kepada pemimpin Jermanik, Odoaker, yang menandai dimulainya Zaman Kegelapan di Eropa Barat.
Oleh karena itu yang pada awalnya bangsa Eropa merupakan negara yang menghasilkan ilmuan ilmuan besar akhirnya harus mengakui kenyataan bahwa ilmuan pada saat itu sudah tidak dianggap lagi dan juga harus menerima bahwa Kekaisaran yang selama ini dianggap besar runtuh juga. Hal ini diperjelas oleh pendapat seorang tokoh yang menyebutkan latar belakang Renaisans adalah sebagai berikut.
“Kelahiran zaman Renaisans juga dikondisikan oleh pertikaian serius antara agama Kristen dengan ilmu pengetahuan. Pertikaian atau konflik itu tak terujukkan. Kaum cendikiawan dan pelopor ilmu pengetahuan modern melawan dogma-dogma geraja. Mereka berdasarkan hasil penelitian empiris dan metode induktif, berhasil mengungkapkan teori-teori paradigmatik yang secara fundamental bertentangan dengan pandangan kitab suci dan doktri gereja....” (Suhelmi, 2001:112).
            Selain itu, latar belakang munculnya Renaisans juga ditulis oleh seorang tokoh yang isinya adalah sebagai berikut.
Renaisans dipicu kekalahan tentara Salib dalam perang suci. Kekalahan tersebut membuat para pemikir dan seniman menyingkir dari Romawi Timur ke Romawi Barat. Mereka menyadari telah dimulainya masa mesiu meledak dan untuk menguasai teknologi tersebut mereka harus melepaskan diri dari pengaruh mistisme zaman Pertengahan. Masa kembali pada sains zaman klasik yang sebelumnya dilarang karena melanggar misi ketuhanan (Djaja, 2012:69).
Untuk pencetus dari Renaisans sendiri bukanlah sejarawan Prancis yaitu Jules Michelet sebagaimana yang seudah disebut, tapi Jules Michelet (1798—1874) adalah orang pertama yang menulis buku tentang Renaisans pada tahun 1855. (Alison Brown,1999:20)
Definisi Renaisans
Menurut Huijbers (1982:50) menyatakan “Salah satu hasil dari penilaian kembali kebudayaan kuno ialah bahwa dalam zaman Renaisans manusia lebih-lebih dihargai sebagai pribadi individual, entah dalam bidang kesenian dalam bidang hidup lain. Karena titik berat diletakkan atas pribadi manusia, zaman ini disebut juga zaman Humanisme.
Menurut Alison Brown dalam Vasari (1999:5) menyatakan “Renaisans sebagai suatu proses kemajauan dan kemunduran yang tak terelakkan.”
Menurut Alison Brown dalam Burckardt (1999:6) menyatakan “Renaisans sebagai suatu periode historis yang meliputi semua aspek kehidupan orang Italia pada masa itu-politik dan sosial juga budaya.”
Menurut Alison Brown (1999:12) menyatakan “Renaisans adalah suatu gerakan yang menggambarkan ‘kapsul’ nilai-nilai dan minat-minat yang dipandang progresif oleh para pendukungnya, karena didasarkan pada nalar dan terang sebagai ganti takhayul dan kegelapan.”
Jadi dapat disimpulkan dari penjelasan menurut para ahli diatas bawa Renaisans merupakan suatu gerakan perubahan diberbagai aspek kehidupan pada masyarakat Eropa khususnya Italia pada abad pertengahan yang tidak dapat dihindari keberadaannya karena merubah nilai-nilai yang bersifat progrefis atau berkembang serta sebagai awal pencerahan pada masa kegelapan yang menimpa Eropa.
Karakteristik Renaisans
            Menurut Alison Brown (1999:16) menyatakan “konsep Renaisans mensyaratkan suatu skema historis, karena jika ada kelahiran kembali, maka harus ada kelahiran yang disusul oleh kematian. Renaisans juga bersifat sebagai berikut.
a.       Anakronistik
Sebuah faham yang dimana didasari oleh ketidakcocokan terhadap suatu zaman, sistem pemerintah, dan unsur latar yang tidak sesuai dengan waktu.
b.      Humanisme
Menurut Soedarsono (1994:58) menyatakan “Di masa Renaisans muncullah gerakan Humanisme, yang lebih mementingkan kehidupan manusia di dunia ini secara nyata, daripada dogma tentang kehidupan kelak di alam baka. Gerakan Humanisme terutama dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani dan Romawi kuno yang didasarkan atas kekuasaan para dewa.
c.       Individualisme
Menurut Friedmann (1990:46) menyatakan “Evolusi individu sebagai ukuran akhir segala sesuatu, dan pertimbangan-pertimbangan pemerintah dan kekuasaan, tidak sebagai hak pemberian Tuhan atau tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi sebagai alat untuk mencapai perkembangan individu, dapat digambarkan sebagai dasar politik dan tujuan hukum darimasyarakat Barat modern.”
Jadi faham Individulisme titak selalu berarti hal yang negatif, tetapi juga dapat berupa yang positif. Jadi faham individualisme juga dapat diartikan sebagai sikap optimisme yang utama dalam diri individu.

d.      Lepas dari Agama
Hal ini dimaksudkan pada waktu itu Eropa sangat dikuasai oleh agama, ketika munculnya Renaisans maka penduduk Eropa yang mendukung Renaisans melepaskan diri dari agama, tidak mau diatur oleh agama.
e.       Empirisme
Suatu faham yang berkembang pada masa Renaisans yang mengkaji tentang sebuah pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan alam yang mengalami objek empiris atau berdasarkan pengalaman (hasil dari penelitian, penemuan, percobaan yang telah dilakukan).
f.       Rasionalisme
Rasionalisme merupakan suatu faham yang hanya mengandalkan pikiran saja. Suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir dan bersifat tidak empiris.
Pengaruh Renaisans
      Begitu banyak pengaruh yang ditimbulkan oleh Renaisans pada waktu itu, karena Renaisans sendiri merupakan proses kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Aspek yang berubah karena adanya Renaisans adalah sebagai berikut.
1. Pengaruh Positif
a.       Menurut Soedarsono (1994:58) menyatakan “Gerakan Humanisme tidak bisa disangkal amat mempengaruhi kehidupan seni di masa Renaisans. Para seniman pematung dan pelukis menghidupkan kembali tema dari zaman antik tentang keindahan tubuh manusia, suatu yang dianggap tabu dan memalukan di masa Abad Pertengahan.”
b.      Menurut Paul Strathern (1997:14) menyatakan “Keseluruhan cara pandang kita atas dunia mengalami transformasi. Eksistensi tak lagi dianggap sebagai suatu ujian yang dimaksudkan untuk mempersiapkan ke dunia berikutnya, namun menjadi sebuah arena yang menjadi tempat bagi semua orang untuk memperlihatkan keterampilannya masing-masing.
c.         Adanya Perubahan dalam Bidang Agama dan Ilmu Pengetahuan
Pembagian dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu lain mulai lepas dari ilmu agama dan falsafahnya, misalnya ilmu sosial: ilmu bumi, ilmu sejarah dan ilmu eksak atau pasti seperti ilmu alam.
d.      Zaman ini membongkar hasil peradaban Yunani-Romawi.
e.       Renaisans telah membentuk masyarakat perdagangan yang maju. Keadaan ini telah melemahkan kedudukan dan kekuasaan golongan gereja yang selalu berusaha menyekat perkembangan ilmu dan masyarakat di Eropa.
f.       Tumbuhnya kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian individu.
g.      Renaisans telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan di Eropa. Antara lain tokoh perubahan terkenal itu adalah William Harvey, Leonardo da Vinci, Lucas Cranach, Christopher Columbus, Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Johannes Kepler dan lain sebagainya.
h.      Renaisans juga melahirkan masyarakat yang lebih progresif dan wujud semangat mandiri sehingga membawa kepada aktivitis penjelajahan dan kemajuan
i.        Mendorong pencarian daerah baru sehingga berkobarlah era penjelajahan samudera.
j.        Menurut Djaja (2012:72) menyatakan “Dengan semakin kuatnya Renaisans sekulerisasi berjalan semakin kuat. Hal ini menyebabkan agama semakin diremehkan bahkan kadang digunakan untuk kepentingan sekulerisasi itu sendiri.”

2. Pengaruh Negatif
      Pada masa Renaisans, banyak hal yang berubah bahkan tidak peduli terhadap negaranya sendiri, hingga pada waktu itu Eropa mendapat ancaman dari orang-orang Arab. Orang Arab sendiri melihat peluang untuk mengusai Eropa ketika berlangsungnya masa Renaisans.
Menurut Alison Brown (1999:212) menyatakan “Citra-diri yang berdampak terhadap pandangan yang berat sebelah dan terlalu berbias atas dirinya dan memproyeksikan pada orang lain aspek-aspek yang setidaknya mirip dengan mereka.”
Daftar Rujukan
Brown, Alison. 1999. Sejarah Renaisans Eropa. Terjemahan Saud Pasaribu.
2009. Bantul: Kreasi Wacana.
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa: Dari Zaman Kuni Hingga Eropa Modern.
Yogyakarta: Ombak
Friedmann, W. 1990. Teori dan Filsafat Hukum: Hukum dan Masalah-masalah

Kontemporer (Susunan III). Terjemahkan Mohamad Arifin. 1990. Jakarta:

Rajawali Pers.

Huijbers, Theo. 1982. Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta:
Kanisius.
Soedarsono, R. M. 1992. Pengantar Apresiasi Seni. Jakarta: Balai Pustaka.
Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Strathern, Paul. 1997. Machiavelli in 90 Minutes. Terjemahan Frans Kowa. 2001.
Jakarta:  Erlangga.